Garam Campur Kaca dan Tawas, BPOM: Tidak Ada, Itu Hoax

Rois Jajeli - detikNews
Jumat, 18 Agu 2017 15:15 WIB
Kepala BPOM, Kadisperindag, Direskrimsus Polda Jatim di Mapolda/Foto: Rois Jajeli
Surabaya - Beredar kabar garam bercampur kaca hingga tawas ditemukan di beberapa daerah di Jawa Timur. Setelah dilakukan uji lab, Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan (BPOM) di Surabaya, hasilnya negatif dan kabar garam campur kaca, tawas adalah hoax.

"Kita sudah ambil 6 sampel merk garam dan kami uji hasilnya garam itu larut dengan sempurna di dalam air. Artinya tidak ada partikel kaca," ujar Hardaningsih, Kepala BPOM di Surabaya kepada wartawan di Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Jumat (18/8/2017).

Ia menambahkan, dari hasil uji mutu, semuanya memenuhi syarat. "Baik kadar airnya, kadar garamnya dan aman untuk dikonsumsi," katanya.

Hardaningsih mengatakan, beberapa waktu lalu saat diviralkan garam dari berbagai merk seperti 'dua anak', 'karapan sapi', 'ibu bijak', 'anak pintar', cap gajah dan cap es sudah diuji.

"Itu semuanya dinyatakan memenuhi syarat," jelasnya.

Hardiningsih didampingi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur Ardi, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim Kombes Pol Widodo, berharap berita hoax garam tersebut agar diluruskan.

"Karena berita hoax ini merugikan masyarakat konsumen maupun produsennya. Terutama produk garam dari Indonesia nanti akan dianggap yang aneh-aneh," jelasnya.

Ia menambahkan, produk garam yang diviralkan dan ternyata hoax adalah garam produksi dari perusahaan garam yang ada di Jawa Timur.

"Ada produk dari Pamekasan, ada produk dari Gresik dan Surabaya. Serta ada satu produk dari Pati, Jawa Tengah," terangnya.

Ia menerangkan, BPOM setiap tahun melakukan sampling dan pengujian terhadap garam untuk konsumsi. Untuk semester pertama, pihaknya sudah menguji 96 garam konsumsi. Dari jumlah tersebut, 93 memenuhi syarat. Sedangkan 3 lainnya hanya kurang memenuhi kadar yodiumnya.

"Yang kurang yodiumnya, kita berkirim surat ke perusahaannya, untuk memperbaiki lagi proses dari yodiumsasi," tuturnya.

Ia menambahkan, pada semester kedua BPOM Surabaya akan menguji sampel garam konsumsi terhadap 96 item lagi. "Selama ini tidak ada masalah garam konsumsi," terangnya.

BPOM di Surabaya pada beberapa minggu lalu juga menerima sampel garam grosok yang dipakai untuk pengolahan ikan. Saat itu, garam dicurigai mengandung tawas.

"Dari hasil uji kami, itu negatif tawas. Jadi begini, kalau garam itu kandungan airnya sedikit, memang mengeras dan agak susah dipecah," jelasnya. (roi/fat)