Arti Kemerdekaan di Mata Nelayan Selamatkan Terumbu Karang

Arti Kemerdekaan di Mata Nelayan Selamatkan Terumbu Karang

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 17 Agu 2017 10:16 WIB
Arti Kemerdekaan di Mata Nelayan Selamatkan Terumbu Karang
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Arti kemerdekaan sangat universal. Tak hanya untuk manusia saja, namun juga untuk lingkungan dan makhluk hidup di dunia ini. Itulah yang ada di benak para nelayan Samudera Bakti, Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Mereka 'memerdekakan' lingkungan alam bawah laut setempat dengan membuat wilayah konservasi terumbu karang.

Perjuangan kelompok nelayan Samudra Bakti, kata Ikhwan, dimulai sejak 10 tahun lalu. Saat itu terumbu karang di Bangsring rusak parah karena adanya penangkapan ikan dengan bom dan potasium.

"Sudah tradisi turun-temurun yang membuat rusak lingkungan. Belum lagi pengambilan karang secara besar-besar untuk pembuatan kapur bangunan dan kami kesulitan mencari ikan hias. Sehingga kami membuat kelompok kembali menyadarkan nelayan lain untuk anti bom dan potasium," ujar Ikhwan Arif, Ketua Kelompok Nelayan Samudra Bhakti kepada detikcom, Kamis (17/8/2017).
Transplantasi terumbu karang menggunakan rak dari pipa paralon/Transplantasi terumbu karang menggunakan rak dari pipa paralon/ Foto: Ardian Fanani

Dari kelompok tersebut, tambah Ikhwan, mulailah dirinya dan nelayan yang lain mulai melakukan perubahan. Mereka membuat zona konservasi untuk kembali menanam terumbu karang yang rusak. Secara otodidak mereka melakukan transplantasi terumbu karang dengan menggunakan rak dari pipa paralon. Tak hanya itu, zona konservasi tersebut dijaga 24 jam.

"Transplantasi terumbu karang kita lakukan. Kita gandeng BKSDA minta terumbu karang dan kita tanam. Selain itu kita juga ambil pucuk terumbu karang yang sehat dan kita tanam kembali," tambah Ikhwan.

Saat ini sudah 5 hektar wilayah konservasi dipenuhi terumbu karang yang sehat, dari 15 hektar lahan yang disediakan. Kegiatan para nelayan ini rupanya membuahkan hasil. Terumbu karang tumbuh dan ikan-ikan kembali muncul di Perairan Bangsring. Langkah para nelayan membuat konservasi terumbu karang rupanya juga dilirik wisatawan, zona konservasi tersebut kemudian ramai menjadi destinasi wisata edukasi. Mereka kemudian membuka kawasan tersebut menjadi jujugan wisatawan Bangsring Underwater.
Merawat hiu-hiu yang luka//Merawat hiu-hiu yang luka// Foto: Ardian Fanani

Perjuangan mereka tak hanya sampai di situ saja. Mereka kemudian membuka klinik hiu. Ikan predator yang tertangkap jaring ikan nelayan diminta dan dirawat oleh nelayan di keramba Apung. Hiu-hiu tersebut kebanyakan terluka dan butuh perawatan. Saat sehat, mereka akan dilepasliarkan ke habitatnya.

"Klinik Hiu kita buka setelah banyaknya hiu yang tertangkap nelayan. Kadang kita minta, tapi kebanyakan kita beri donasi sebagai pengganti BBM atau jaring yang rusak. Sudah ratusan ikan hiu yang sudah kita rilis," tambah Ikhwan.

Ekosistem yang terjaga di Bangsring Underwater tak hanya untuk memerdekakan terumbu karang dan hiu yang terluka. Bangsring Underwater juga menjadi lokasi memerdekakan benur lobster hasil barang bukti tangkapan pihak kepolisian dan Balai Karantina Ikan.
HUT RI di Desa Bangsring/HUT RI di Desa Bangsring/ Foto: Ardian Fanani

"Sudah banyak kegiatan pelepasliaran benur lobster di sini. Kami mendukung kegiatan ini. Sehingga menambah penghuni ekosistem di Bangsring," tambahnya.

Namun yang tersulit, kata Ikhwan, adalah memerdekakan mindset nelayan dari melakukan penangkapan ikan dengan bom dan polisi umum dengan penangkapan konvensional. Bertahun-tahun mereka melakukan edukasi demi menyelamatkan wilayah konservasi yang mereka bangun.

"Kami meyakini bahwa jika kami merawat laut, maka akan laut akan memberikan yang lebih kepada kami. Saat ini terumbu karang di Bangsring sudah tumbuh dengan bagus, perekonomian nelayan juga menjadi lebih baik. Pendidikan untuk anak-anak kami juga sudah menjadi perhatian dan kami pernah malu menyebutkan bahwa kami adalah nelayan," pungkasnya. (fat/fat)
Berita Terkait