Para siswa tuna netra dari Yayasan Pendidikan Anak anak Buta (YPAB) Surabaya, kelas 8-10 ini mengikuti berbagai lomba. Di antaranya, lomba tangkap belut, lomba makan kerupuk, lomba pecah balon dan lomba joget.
Tentunya gelak tawa ceria terdengar dari suara anak-anak yang sudah mengalami kebutaan sejak lahir, saat ikut lomba tangkap belut. "Hi..geli..ayo cepat mana embernya," kata Vivi Clarisa Natania kelas 9 YPAB, Jalan Gebang Putih Sukolilo, Senin (14/8/2017).
Setelah berusaha menangkap 4 ekor belut, Vivi bersama 3 temannya akhirnya memenangkan lomba Agustusan. Ia mengaku sangat senang dan ingin pegang lagi, meski dirinya geli saat belut yang ditangkapnya jatuh.
Siswa tuna netra lomba agustusan/ Foto: Zaenal Effendi |
"Senang banget ingin pegang lagi, tapi geli pas di tanah (lantai) tadi," imbuh Vivi usai lomba.
Rasa penasaran Vivi terhadap belut pun ia buktikan. Seluruh temannya sibuk dengan lomba selanjutnya, ia asyik duduk sendiri di samping ember berisi puluhan belut. Salah satu tangannya dimasukkan dan bermain dengan belut.
"Jalannya kok pelan ya. Memang jalannya belut seperti apa ya," tanyanya dengan penasaran sambil membelai belut di dalam ember.
Kepala Sekolah YPAB Surabaya Eko Purwanto mengaku lomba agustusan yang digelar selain memeriahkan HUT RI, juga mengajarkan para siswa tuna netra mengenalkan lingkungan dan melatih para siswa mengenal lingkungan sekitar.
"Dari dalam kelas para siswa kita ajak berjalan menuju ke lokasi lomba dengan menggunakan tongkat agar mereka bisa mandiri bepergian sendiri dan melatih mobilitas," kata Eko di sela lomba. (ze/fat)












































Siswa tuna netra lomba agustusan/ Foto: Zaenal Effendi