Ya, di dusun tersebut memang ada ritual perang nasi. Ritual tersebut diadakan setiap tahun sekali pada musim panen padi kedua. Tujuannya untuk mensyukuri hasil panen yang melimpah.
Kepala Desa Planglor Suyadi mengatakan, ritual ini dilakukan temurun sejak nenek moyang. Ritual ini diikuti hampir seluruh warga. Tiap kepala keluarga membawa nasi bungkus daun jati dan daun pisang. Lalu nasi tersebut dikumpulkan di tengah punden. Karena banyaknya nasi yang dibawa warga, yang terlihat adallah gunungan nasi.
![]() |
Yang mengikuti perang nasi ini lengkap, mulai dari orang dewasa, remaja, hingga anak-anak. Pria dan wanita bercampur jadi satu di lokasi. Mereka saling lempar dan saling menghindar. Mereka juga saling berlompatan. Beberapa diantaranya bahkan ada yang terjatuh. Seusai berperang, sebagian warga memunguti sisa nasi yang masih bisa diselamatkan.
Salah satu warga, Ani, mengaku menikmati perang nasi ini. Ani berharap ritual ini bisa dilakukan lagi tahun depan yang itu berarti panen tetap melimpah tahun depan.
"Senang, ini saya membawa sebagian nasinya untuk dimakan di rumah sama anak dan suami. Semoga membawa berkah panen padi lebih banyak", kata perempuan 40 tahun itu.
![]() |