Pelajar SMP Ditemukan Tewas Terjepit Batu di Dasar Sungai

Pelajar SMP Ditemukan Tewas Terjepit Batu di Dasar Sungai

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 02 Agu 2017 18:10 WIB
Pelajar SMP Ditemukan Tewas Terjepit Batu di Dasar Sungai
Foto: (Thinkstock)
Mojokerto - Doni Saputra (14), pelajar SMP ditemukan tak bernyawa di dasar sungai Desa Kedunguneng, Bangsal, Mojokerto, Rabu (2/8/2017). Remaja asal Desa Jumeneng, Mojoanyar ini tenggelam saat mandi bersama temannya.

Koordinator Lapangan Basarnas Surabaya Aniul Mahdun mengatakan, tubuh Doni ditemukan terjepit bebatuan sungai di kedalaman sekitar 5 meter. Jarak penemuan jasad korban hanya beberapa meter dari lokasi tenggelamnya.

"Tepat pukul 14.23 Wib, korban berhasil kami temukan dan kami evakuasi," kata Ainul kepada wartawan di lokasi.

Pencarian korban berlangsung hampir 24 jam. Tim Basarnas Surabaya dibantu potensi relawan Mojokerto melakukan penyisiran hingga radius 3 Km dari lokasi tenggelamnya korban. Namun, penyisiran dengan perahu karet itu tak membuahkan hasil.

"Akhirnya kami gunakan cara manual dengan bentangan tali dan penyelaman. Alhamdulillah korban bisa kami temukan," ujarnya.

Kapolsek Bangsal AKP Suparmin mengatakan, Doni tenggelam saat mandi bersama dua temannya pada Selasa (1/8) sekitar pukul 14.30 Wib. Saat itu korban bersama Ruslan Firmansyah (25), warga Desa Seduri, Mojosari dan Sandi Sujud Wahyudi (16), warga Desa Jumeneng, Mojoanyar.

"Awalnya yang tenggelam Doni dan Ruslan karena tak bisa berenang, kemudian Sandi berusaha menolong. Namun, hanya Ruslan yang berhasil diselamatkan," terangnya.

Tahu korbannya tenggelam, lanjut Suparmin, kedua pemuda itu justru memilih kabur. Bahkan mereka membuang pakaian korban di Desa Awang-awang Mojosari karena ketakutan.

"Kedua teman korban sudah kami amankan di polsek, masih kami mintai keterangan," jelasnya.

Sejauh ini, tambah Suparmin, pihaknya belum menemukan unsur kesengajaan dari orang lain yang membuat Doni tenggelam. Namun, pihaknya tetap meminta agar jasad korban divisum di RSUD Prof Dr Soekandar, Mojosari.

"Kalau ada tanda-tanda kekerasan di hasil visum nanti, baru pelakunya kami proses," tandasnya. (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini