Setelah mengenal melalu iFB, para korban melanjutkan komunikasi dengan Mirna Cempluk via whatsapp. Dari percakapan itu, para korban terbuai untuk dan berminat menginvestasikan uangnya. Namun mayoritas para korban tidak pernah bertemu secara langsung.
"Kami komunikasinya lewat media sosial. Saya percaya saja, karena teman, saudara semua ikut dan sudah memperoleh keuntungan," jelas R salah satu korban saat akan melapor ke Polres Malang Kota Jalan Jaksa Agung Suprapto, Selasa (2/8/2017).
R datang bersama 5 korban lain, rata-rata telah menyetorkan uang sebesar Rp 50 juta kepada Julisa melalui transfer ke BRI.
R bersama saudaranya mulai curiga bahwa telah menjadi korban penipuan akhir bulan kemarin. Semestinya dirinya, sudah mendapatkan keuntungan dari investasi yang disetorkan.
"Untuk satu jutanya akan dapat Rp 150 ribu, memang tidak ada hitam di atas putih. Tapi semua komunikasi ada di WA dan grup," beber warga Sukun, Kota Malang, ini.
Novi (32), datang menemani R dan I mengaku, investasi hanya tertinggal Rp 7 juta, setelah beberapa kali menyetorkan uang investasi kepada Julisa.
"Saya tinggal Rp 7 juta, awalnya dulu banyak dan saya sudah beberapa kali mendapatkan profit sesuai kesepakatan," jelas Novi terpisah.
Sama halnya dengan Rizky (33), wanita ini telah lima kali memperoleh keuntungan dari nilai investasinya sebesar Rp 50 juta.
"Saya sudah cair lima kali, tapi setelah lebaran lalu, pelaku mulai sulit dihubungi atau diajak ketemu dan sekarang sudah kabur," terangnya.
Para korban sempat mendatangi sebuah rumah di perumahan elite Kota Araya, Kota Malang, yang diduga ditempati pelaku. Namun, Julisa tidak berada di rumah tersebut. "Iya rumahnya di Araya itu juga, kami datang kesana tidak ada orang," tegas R. (bdh/bdh)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini