Komite wali murid yang menjumpai fakta itu sangat menyesalkan langkah sekolah yang menggelar kegiatan belajar mengajar di halaman.
![]() |
Pelajar di kelas 7, 8 dan 9 di sekolah yang berada di Jalan Semampir Kelurahan itu bergiliran belajar di halaman sambil lesehan. Menurut Didik, jumlah pelajar dan ruang kelas tidak seimbang, akibatnya ketika semua harus masuk pagi akan tidak mencukupi.
"Kalau saya pribadi jelas sangat keberatan akan kebijakan ini. Sangat tidak efisien dan jauh dari kelayakan proses belajar mengajar," kata Didik.
Didik menyebut jika aktivtas anak-anak di luar itu bukan untuk kegiatan lain, melainkan proses belajar mengajar. Di saat bersamaan, kata Didik, di dalam kelas juga ada proses belajar mengajar.
Dinas Pendidikan diminta untuk mencarikan solusi agar proses belajar mengajar tidak terganggu dengan penerapan program moving class akibat pemberlakuan satu shift. "Sudah kita laporkan ke dinas pendidikan," katanya.
![]() |
"Semua kelas, moving class jika berpindah kelas karena sarana dan prasarana ada di masing-masing kelas yang telah tersedia, bukan di luar seperti," kata Didik.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya M Ikhsan menyangkal jika pelajar di SMPN 52 terlantar. Sebaliknya, ia menjelaskan bila hari ini semua kelas di SMPN 52 sengaja dikumpulkan di halaman, termasuk siswa baru.
"Semua kumpul di luar, agar saling kenal dengan adik -adiknya," katanya saat dikonfirmasi.
Dia menegaskan bahwa aktivitas belajar di SMPN tersebut akan kembali berlangsung seperti biasa. Penerapan 1 shift belum bisa dilaksanakan karena pembangunan gedung menjadi tiga lantai belum selesai.
"Besok kembali masuk pagi dan siang, dua shift. Nanti semua gedungnya lantai 3 dan jika selesai baru kita terapkan satu shift, pagi semua," katanya. (ugik/bdh)