"Hasil koordinasi dengan para camat dan lainnya, semua desa di Kabupaten Pasuruan, masih aman dan tercukupi kebutuhan air bersih. Kami sudah siapkan pendistribusikan air bersih ke desa-desa jika ada laporan kekurangan air bersih," kata Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana, Minggu (16/7/2017).
Kesiapan pendistribusian air bersih tersebut termasuk ketersediaan anggaran darurat Rp 2 miliar. "Anggaran itu bisa digunakan sewaktu-waktu dan berapa yang akan digunakan, tergantung kebutuhan nanti jika benar-benar terjadi krisis air bersih," imbuh Bakti.
Menurut Bakti, selain pendistribusian air bersih, Pemkab Pasuruan juga sudah berupaya mengatasi krisis air bersih secara permanen dengan pengeboran, pipanisasi, hingga pembangunan embung.
"Mengatasi ketersediaan air bersih secara permanen harus dilakukan secara terintegrasi. Pengeboran dan pipanisasi harus dibarengi dengan konservasi lingkungan untuk memunculkan sumber-sumber air baru serta memperbesar cadangan air bawah tanah," terangnya.
Membuat embung, katanya, merupakan bagian dari konservasi lingkungan. Karena embung akan memunculkan vegetasi-vegetasi baru yang bisa menyerap air hujan dan bisa memunculkan mata air baru. Saat ini sudah dibangun delapan embung di berbagai lokasi rawan krisis air bersih, termasuk Embung Kalisat II yang diresmikan Bupati Irsyad Yusuf pada Maret 2017 lalu.
"Nah, dari mata air inilah akan dimanfaatkan untuk mengatasi krisis air bersih, menyalurkannya dengan pipanisasi. Keberadaan embung juga bisa memenuhi ketersediaan air untuk irigasi pertanian saat musim kemarau. Bahkan saat musim penghujan, embung juga bisa mengendalikan banjir, luapan air sungai dapat diatur dan dicegah," urai Bakti. (iwd/iwd)











































