Kepala Disperindag Lamongan Muhammad Zamroni membenarkan kalau saat ini ada penggeseran lapak penjual nasi boranan. Zamroni mengakui, pemindahan atau penggeseran lapak ini demi keselamatan pedagang dan juga pembeli nasi boranan sendiri.
Pasalnya, aku Zamroni, jalur trotoar yang selama ini dipakai oleh para pedagang ini adalah jalur poros dan jalur cepat. "Sudah beberapa kali kejadian kecelakaan di sepanjang jalur ini, bahkan sampai ada korban meninggal," kata Zamroni kepada detikcom, Sabtu (15/7/2017).
Lebih jauh, Zamroni menuturkan, penggeseran lapak penjual nasi boranan ke dalam ini juga untuk menjaga kebersihan nasi boranan itu sendiri karena tidak langsung dekat jalan raya. Sebelum digeser, kata Zamroni, debu akibat kendaraan di jalan jaksa agung suprapto sangat tinggi sehingga mengganggu kualitas nasi boranan.
Zamroni menjelaskan, penggeseran atau perpindahan lapak nasi boran ini juga untuk menjaga keamanan dan ketertiban, karena banyak dari para pembeli yang memarkir kendaraannya di badan jalan. "Itu juga usulan dari para pembeli yang kami akomodir," akunya
Mengenai jumlah penjual nasi boran yang dipindahkan, Zamroni mengatakan kalau dari data yang ada di Disperindag setidaknya lebih kurang 37 lapak yang digeser ke dalam. Mengenai lokasi penggeseran, Zamroni memaparkan kalau penggeseran hanya ke dalam atau tidak berada di trotoar jalan poros, seperti yang berada di trotoar di depan kantor Disperindag dan di depan ruko, digeser masuk ke dalam areal ruko dan depan Disperindag lamongan.
"Lainnya, seperti yang berada di depan Lamongan Indah kami geser ke sekeliling Lamongan Plaza," jelasnya.
Sementara, salah satu pedagang yang terpaksa ikut bergeser lokasi lapaknya, Sulistyowati mengaku kalau sebenarnya mereka enggan pindah karena harus mencari pelanggan baru lagi karena berada di tempat yang baru. Selain itu, kalau sebelumnya Sulis bisa menghabiskan setidaknya 5 kilo nasi, tapi sejak berpindah ia hanya menghabiskan 3 kilo nasi.
Lokasi baru yang baru 5 hari ditempati ini, kata Sulis, fasilitas pendukung juga masih minim, yaitu tidak ada lampu penerangan dan fasilitas lainnya. "Kami memang sebelumnya diberitahu kalau akan dipindah, tapi sebenarnya lebih senang di tempat yang lama," ujar Sulis. (iwd/iwd)