Sahrul yang pernah mengikuti latihan di Syiria ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri pagi tadi. Namun, warga baru mengetahui Sahrul ditangkap saat Densus bersama Brimobda Ampeldento serta Polres Malang datang melakukan penggeledahan di rumahnya, Senin (19/6/2017) siang.
"Saya tidak tahu ditangkap, baru ngerti ada Densus dan polisi," ujar Samsul, pemilik warung tepat di depan rumah Sahrul.
Menurut Samsul, di rumah yang ditempati istri dan anaknya, Sahrul membuka usaha toko baju online. Hampir setiap hari rumahnya ramai didatangi pembeli.
"Kalau orangnya baik, sering membeli pisang goreng disini. Saya tahunya jualan LKS untuk anak sekolah, istrinya jual baju," ungkap Samsul.
Samsul bersama istrinya seakan tak percaya, jika ternyata Sahrul pernah berangkat ke Syiria selama enam bulan. Bila melihat kesehariannya, tidak menunjukkan perilaku aneh. "Berarti teroris ya, atau ikut ISIS," ucapnya saat diwawancarai awak media.
Sampai kini, banyak warga melihat rumah Sahrul dari jarak dekat. Aparat kepolisian sudah lama meninggalkan rumah bercat biru dipadu warna biru itu.
Slamet Riyadi, Ketua RT setempat, mengatakan, Sahrul bersama keluarganya mulai tinggal selama 1,5 tahun lamanya. "Saya tidak tahu kegiatannya, apalagi sampai pernah ke Syiaria," kata Slamet usai mendampingi aparat kepolisian dalam melakukan penggeledahan.
Menurut Slamet, warganya sangat jarang bersosialisasi, serta minim kegiatan. Jadi waktu saling berinteraksi dipastikan tidak pernah. "Disini jarang ada kegiatan," tuturnya.
Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung menuturkan, sejumlah barang disita selama penggeledahan digelar Densus 88, seperti buku tabungan, serta dokumen untuk kepergian ke luar negeri.
"Sejumlah dokumen disita, dalam penggeledahan. Istri dan anaknya ada di dalam rumah," tegas Kapolres. (bdh/bdh)











































