Mengintip Alquran Tulisan Tangan Berusia 87 Tahun

Mengintip Alquran Tulisan Tangan Berusia 87 Tahun

Muhajir Arifin - detikNews
Rabu, 07 Jun 2017 13:25 WIB
Mengintip Alquran Tulisan Tangan Berusia 87 Tahun
Foto: Enggran Eko Budianto
Jombang - Tak hanya mewariskan pemikiran, para ulama NU di masa lalu juga meninggalkan karya bersejarah. Salah satunya Alquran tulisan tangan KH Abdul Hamid Hasbullah, pengasuh PP Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang yang juga adik kandung pendiri NU, KH Abdul Wahab Hasbullah.

Kitab suci berumur sekitar 87 tahun itu konon bisa digunakan untuk menyembuhkan orang kesurupan. Kitab suci itu sampai saat ini masih tersimpan dengan rapi di kediaman almarhum KH Abdul Hamid Hasbullah di kompleks PP Bahrul Ulum, Jombang. Alquran kuno ini mempunyai dimensi 25x20x7 cm dengan sampul tebal warna hitam.

Karena umurnya yang sudah puluhan tahun, beberapa halaman kitab suci ini rusak dimakan rayap. Sejumlah halaman pada juz 1 telah hilang sehingga menyisakan tiga halaman. Sementara bagian lainnya masih dalam kondisi utuh.

Cucu KH Abdul Hamid Hasbullah, KH Abdul Rozaq mengatakan, Alquran tersebut buah tulisan tangan kakeknya. Menurut dia, kitab suci umat Islam itu ditulis sekitar tahun 1930. Di tengah kondisi belum ada mesin percetakan seperti saat ini, maka tulisan tangan menjadi pilihan kala itu.
Foto: Enggran Eko Budianto

"Mbah Hamid termasuk ulama zuhud, beliau sangat cinta Alquran. Jadi, tulisan ini sebagai bentuk merawat kitab suci," kata pria yang akrab disapa Gus Rozaq ini kepada wartawan, Rabu (7/6/2017).

Tak sembarangan kitab suci, lanjut Gus Rozaq, konon Alquran tulisan KH Abdul Hamid ini mempunyai tuah mampu menyembuhkan orang yang kesurupan.

"Jika dulu di Tambak Beras ini ada orang kesurupan, maka Alquran ini didekatkan ke orang tersebut. Dengan seizin Allah SWT, jin yang merasuki tubuh itu langsung hilang," ungkapnya.

KH Abdul Hamid Hasbullah menjadi salah satu pengurus PP Bahrul Ulum setelah ayahnya Kiai Chasbulloh wafat tahun 1920. Kiai Hamid merupakan adik kandung ulama pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah. (fat/fat)
Berita Terkait