DetikNews
Jumat 02 Juni 2017, 19:23 WIB

Kapolrestabes Surabaya: Tugas Kita Bersama Memperkuat Pancasila

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Kapolrestabes Surabaya: Tugas Kita Bersama Memperkuat Pancasila Kapolrestabes Surabaya dan Wagub Jatim mengisi seminar keberagaman Pancasila ( Foto: Istimewa)
Surabaya - Pada era globalisasi dan keterbukaan saat ini, Pancasila terus mendapat rongrongan. Adalah tugas kita bersama untuk mempertahankan dan memperkuat Pancasila sebagai sendi dan dasar negara.

"Negara kita adalah takdir dari Tuhan. Negara kita penuh kekayaan alam dan keberagaman. Itu bisa menjadi kekuatan sekaligus bisa menjadi trigger potensi konflik," ujar Iqbal dalam presentasinya pada Seminar Keberagaman dan Nilai-nilai Pancasila di Gedung Serba Guna Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya, Jumat (2/6/2017).

Potensi konflik, kata Iqbal, bisa dengan mudah tercetus bila bangsa Indonesia tidak cerdas mengelola dan memanifestasikan keberagaman itu. Pancasila pun tidak hanya diucapkan saja, melainkan harus juga diimplementasikan pada sendi-sendi kehidupan.

"Kita harus cerdas sebagai generasi bangsa untuk sekuat tenaga memahami nilai-nilai Pancasila dan mengimplementasikan pada sendi-sendi kehidupan," kata Iqbal.

Iqbal menjelaskan, ada faktor internal dan eksternal pada keberagaman yang bisa memicu konflik. Salah satu faktor internal adalah Indonesia yang mayoritas didominasi oleh masyarakat low class.

Menurut Iqbal, keberagaman Indonesia bisa menjadi kekuatan sekaligus trigger konflik Menurut Iqbal, keberagaman Indonesia bisa menjadi kekuatan sekaligus trigger konflik (Foto: Istimewa)
Masyarakat bawah ini mempunyai kecederungan untuk mudah tersulut oleh kelompok atau desain lain yang mengarah ke chaos, yang pada akhirnya akan menimbulkan konflik yang bisa jadi mengarah ke ketahanan nasional. Low class ini merupakan salah satu kelompok yang mudah dimanfaatkan oleh kelompok pemecah belah bangsa demi kepentingan suatu golongan tertentu.

"Sekarang ini kan sudah happening, sudah terjadi. Ada kelompok yang berusaha memecah belah Pancasila dan NKRI serta memaksakan ajaran tertentu. Kita harus melihat faktor internal ini menjadi sebuah perjuangan bersama untu menentang pihak yang ingin merongrong NKRI," lanjut Iqbal.

Fakto internal lain yang bisa berpotensi menyulut konflik di tengah keberagaman adalah belum terciptanaya pemerataan pembangunan dan ketimpangan kesejahteraan antara yang kaya dan miskin.

Untuk faktor eksternal, Iqbal melihat globalisasi dalam bentuk media dan komunikasi. Saat ini ujaran-ujaran kebencian dengan mudah disuarakan melalui media dan media sosial. Ujaran-ujaran kebencian dan permusuhan ini dengan mudahnya diterima dan bisa jadi akan mempengaruhi pemikiran masyarakat.

Belum lagi pengaruh barat dan timur dengan asumsi anarki bahwa yang kuatlah yang menang. Terlebih lagi dengan liberalisme yang membuat semua informasi, teknologi, dan produk asing seakan manjadi sesuatu yang masyarakat Indonesia tergantung dengannya.

"Semua faktor tersebut harus dipahami secara cerdas untuk mempertahankan NKRI. Stabilitas politik dan keamanan mutlak diperlukan serta menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia," tandas Iqbal.

Seminar ini sendiri diikuti oleh sekitar 600 orang yang terdiri dari seluruh karyawan dan taruna taruni ATKP Surabaya. Selain Iqbal, yang turut menjadi pembicara lain adalah Wakil Gubernur Jatim Saifulah Yusuf atau Gus Ipul. Dalam materinya, Gus Ipul berbicara tentang Revolusi Mental untuk Pembentukan Karakter Pemuda yang Berjiwa Pancasila.

Seminar ini diikuti sekitar 600 orangSeminar ini diikuti sekitar 600 orang (Foto: Istimewa)

(iwd/fat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed