Ramadan, Pengrajin Kopiah di Pasuruan Kewalahan Terima Orderan

Muhajir Arifin - detikNews
Jumat, 02 Jun 2017 10:46 WIB
Foto: Muhajir Arifin
Pasuruan - Permintaan kopiah di bulan Ramadan masih tinggi dan terus meningkat. Ahmad (44), warga Dusun Ngembe, Desa Baujeng, Kecamatan Beji, seorang perajin kopiah di Kabupaten Pasuruan terpaksa tak dapat memenuhi semua pesanan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari Singapura hingga Malaysia. Permintaan pun naik hingga 200 persen.

"Permintaan sudah tinggi sebelum Ramadan, masih bisa memenuhi pesanan. Tapi sudah masuk Ramadan begini, saya kewalahan. Banyak yang tak bisa dikirim," kata Ahmad di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat usaha, Jumat (2/6/2017).

Usaha kopiah milik Ahmad yang sudah dijalani sejak 1996 bukan usaha kecil, tapi sudah merupakan usaha menengah. Ahmad memiliki 50 karyawan tetap dan puluhan lagi karyawan paruh waktu. Namun karena sudah dikenal luas, semakin banyak yang memesan kopiah kepadanya.

Sambil mengajak detikcom masuk ke tempat produksi kopiah, puluhan karyawan sibuk bekerja. Ahmad mengatakan setiap hari ia mampu memproduksi 100-150 kodi kopiah. Sementara permintaan bisa capai 200-300 kodi lebih.

Kopiah produksinya terdiri dari 15 jenis dengan harga bervariasi. Yang termurah Rp30 ribu per kodi dan yang paling mahal Rp1,5 juta per kodi.

"Permintaan dari banyak daerah, Pasuruan sendiri, Surabaya, Jakarta, Bandung, Sulawesi, Kalimantan Sumatera hingga Singapura dan Malaysia," terang ayah 5 anak yang lebih dikenal dengan panggilan Haji Mad Kopiah ini.
Foto: Muhajir Arifin

Haji Mad menuturkan, saat ini ia memproduksi kopiah, baju koko hingga mukena. Karena sudah lama bergelut di bisnis tersebut, namanya sudah dikenal luas sehingga produknya banyak dicari. Para pembeli tinggal pesan kemudian dikirim.

"Agar mereka tak kecewa biasanya saya bagi rata, yang penting masih dapat barang," jelasnya.

Ia pun menambah banyak karyawan paruh waktu yang terdiri dari pelajar, pemuda yang tak punya pekerjaan untuk memenuhi pesanan. Ahmad memperkerjakan para tetanganya, mulai dari ibu-ibu, anak-anak muda hingga para pelajar.

"Meski demikian tetap tak bisa memenuhi semua permintaan," tambahnya.

Untuk memperbanyak produksi, ia juga menerima kopiah setengah jadi dari para tetangganya. "Saya kasih mereka bahan, kemudian disetor ke saya sudah bentuk setengah jadi, di sini kita finishing," jelas pria yang setiap tahun bisa pergi umroh dari hasil usaha kopiah ini.
Foto: Muhajir Arifin

Ahmad mengaku bersyukur usahanya yang dirintis sejak 1996 dimulai dari satu mesin jahit dan hanya memproduksi tiga jenis kopiah itu, kini berkembang pesat. Selain memiliki belasan mesin jahit dan puluhan karyawan, ia juga memproduksi mukena dan baju koko.

Ia juga bahagia usahanya mampu meningkatkan taraf ekonomi warga sekitar. Bahkan lambat laun, dusun yang sejak dulu dikenal sebagai Kampung Petasan berubah imej menjadi Kampung Kopiah.

"Karena banyak pemuda yang awalnya menganggur bekerja di sini," jelasnya.

Selama bertahun-tahun, Dusun Ngembe dikenal dengan Kampung Petasan karena banyak warganya memproduksi petasan saat Ramadan. Setiap bulan Ramadan, banyak warga yang memproduksi petasan secara sembunyi-sembunyi.

Meski polisi terus melakukan penindakan dengan melakukan penggerbekan pembuatan petasan di kampung ini setiap tahun, namun warga tak pernah jera.

Namun sejak beberapa tahun belakangan, imej kampung petasan mulai memudar seiring dengan semakin berkurangnya warga yang memproduksi petasan di desa ini. Selain karena terus jadi target operasi aparat, salah satu musababnya diakui Ahmad adalah banyak warga terutama pemuda yang memilih bekerja di usaha kopiah miliknya.

"Alhamdulillah usaha ini jadi berkah untuk banyak orang," tutupnya. (fat/fat)