Para mahasiswa tersebut berasal dari beberapa jurusan yang berbeda di TKC. Diantaranya Rachel Cline, Cassidy Fahey, Stuart Clay, dan Nick Gulley. Mereka didampingi dosen pembimbing, Robert Dwight Carle.
"Selama di Tebuireng, mereka berdiskusi tentang beragam topik. Mulai dari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, peran Tebuireng dalam perjalanan bangsa Indonesia, hingga sistem pendidikan dan metode pembelajaran di pesantren," kata Sekretaris Utama PP Tebuireng Abdul Ghofar kepada wartawan, Kamis (18/5/2017).
Layaknya santri, para mahasiswa dari negeri Paman Sam itu memakai sarung. Sementara dua mahasiswi memilih berhijab. Seperti saat sowan ke kediaman pengasuh PP Tebuireng, KH Sholahudin Wahid atau Gus Solah, serta ketika mengunjungi Madrasah Muallimin dan Madrasatul Quran Tebuireng.
empat mahasiswa The King's College bertemu Gus Solah/Foto: Enggran Eko Budianto |
Sementara Robert D Carle, Guru Besar Teologi dan Sejarah Agama-agama yang mendampingi rombongan mahasiswa TKC menuturkan, pihaknya ingin mendalami ajaran Islam moderat yang selama ini diajarkan di pesantren.
"Selama ini, banyak orang hanya melihat Timur Tengah sebagai representasi dunia Islam. Padahal Islam Indonesia yang ramah dan toleran justru bisa menjadi alternatif," terangnya.
Selain belajar di Tebuireng, rombongan mahasiswa ini juga akan mengunjungi situs-situs bersejarah yang menjadi bukti toleransi antarumat beragama di Indonesia. Seperti GKJW Mojowarno, Gereja Pohsarang Kediri, serta beberapa candi dan Maha Vihara di Trowulan Mojokerto.
Rombongan juga akan berkunjung ke Makam Bung Karno di Blitar, serta Pesantren Baitul Quran di Mojokerto dan Pesantren Gontor Ponorogo. Terakhir, mereka akan menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) di Gunung Bromo.
Pasca kunjungan mahasiswa AS ini, tahun depan giliran PP Tebuireng yang akan mengirimkan santrinya untuk studi singkat di TKC. (bdh/bdh)












































empat mahasiswa The King's College bertemu Gus Solah/Foto: Enggran Eko Budianto