Warga Binaan Lapas Mojokerto Diajak Istighosah agar Tak Kabur

Warga Binaan Lapas Mojokerto Diajak Istighosah agar Tak Kabur

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 08 Mei 2017 14:02 WIB
Warga Binaan Lapas Mojokerto Diajak Istighosah agar Tak Kabur
Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto - Kaburnya narapidana (napi), bukan perkara baru di Lapas Klas IIB Mojokerto. Penyebab utamanya adalah over kapasitas dan lemahnya pengawasan akibat minimnya jumlah sipir. Untuk itu, warga binaan diajak istighosah agar ikhlas menjalani masa hukuman sehingga tak kabur.

Kepala Lapas Mojokerto Muhammad Hanafi mengatakan, dengan luas area hunian 50x75 meter persegi, lapas di Jalan Taman Siswa itu saat ini dihuni 641 warga binaan. Terdiri dari 230 tahanan dan 411 napi. Menurut dia, kondisi ini jauh dari ideal karena kamar 5x6 meter dihuni sampai 50 orang.

"Jadi, sudah over kapasitas sampai 300%, normalnya dihuni 200 orang," kata Hanafi kepada detikcom, Senin (8/5/2017).

Kondisi itu diperparah dengan lemahnya pengawasan di dalam lapas. Menurut Hanafi, jumlah sipir saat ini hanya 20 orang. Untuk berjaga selama 24 jam, mereka dibagi dalam tiga shift. Praktis setiap waktu, dengan jumlah penghuni yang membludak, Lapas Mojokerto hanya dijaga 5 sipir.

"Dibandingkan jumlah warga binaan, jumlah petugas kami sangat kurang. Idealnya setiap shift dijaga 14 orang. Inilah yang sebenarnya menjadi akar dari semua persoalan di lapas," ungkapnya.

Ironisnya, lanjut Hanafi, kondisi ini sudah terjadi selama bertahun-tahun. Tak pelak insiden napi kabur hingga keributan di dalam lapas masih saja terjadi.

Seperti pada 2 Oktober 2016, dua napi kasus curat dan narkoba kabur dari sel isolasi dengan cara menjebol plafon menggunakan gergaji besi. Sementara pada 23 Agustus 2015, terjadi perkelahian antara napi kasus penganiayaan dengan napi kasus narkoba.

Perkelahian dipicu utang itu nyaris memicu kerusuhan antar kelompok napi di dalam lapas. Situasi kembali kondusif setelah petugas memindahkan empat napi ke Lapas Jombang.

Untuk mencegah insiden tersebut terulang, lanjut Hanafi, pihaknya menggunakan pendekatan spiritual. Seluruh warga binaan Lapas Mojokerto diajak menggelar istighosah.

"Kegiatan spiritual ini untuk mengantisipasi kerusuhan dan napi kabur. Supaya warga binaan bisa ikhlas menjalani hukuman pidananya karena perbuatannya, di lapas mereka kami bina supaya menjadi orang yang lebih baik," terangnya.

Sementara untuk menekan over kapasitas, Hanafi berharap kepada polisi dan Badan Narkotika Nasional (BNN) di deerah agar melakukan assesment terhadap para pelaku kasus narkotika. Upaya itu untuk memilah para pelaku tergolong pengedar atau sekadar pecandu. Karena 30% penghuni lapas saat ini terkait kasus narkotika.

"Mereka sebagian kan pecandu yang harusnya mendapatkan rehabilitasi medis. Lapas bukan tempat orang rehabilitasi, itu ranahnya medis," ujarnya.

Selain itu, lanjut Hanafi, over kapasitas yang terjadi selama ini karena Lapas Mojokerto digunakan untuk menampung warga binaan dari Kabupaten dan Kota Mojokerto. Dia berharap kepada pemerintah daerah agar melakukan pemekaran dengan membangun lapas baru di wilayah kabupaten.

"Sebagaimana amanah KUHAP, setiap kota dan kabupaten perlu dibangun lapas, tentunya dibarengi pengadaan petugas pemasyarakatan terlatih," tandasnya. (bdh/bdh)
Berita Terkait