Sedikitnya 18 gunungan hasil bumi dikirab mengelilingi lapangan Desa Randubangu, Kecamatan Mojosari. Setiap gunungan tersusun dari hasil bumi unggulan masing-masing kecamatan. Seperti Kecamatan Sooko yang dikenal sebagai sentra penghasil buah jeruk, tumpeng yang dikirab pun berupa susunan buah berasa kecut manis itu yang bentuknya mirip jeruk raksasa.
Lain halnya dengan Kecamatan Trawas yang gunungannya mayoritas tersusun dari buah durian. Memang wilayah di lereng Gunung Penanggungan ini menjadi sentra buah berkulit duri tersebut. Selain itu, sayur-sayuran, aneka buah lainnya hingga palawija mewarnai belasan gunungan raksasa tersebut.
Tak ketinggalan, parade pasukan Mahapatih Gajah Mada meramaikan acara tersebut. Sejumlah kecamatan juga menampilkan tarian ala petani tradisional diiringi musik patrol. Seluruhnya dikirab di hadapan para Forkopimda Mojokerto.
Gunungan jeruk berasal dari kecamatan penghasil jeruk (Foto: Enggran Eko Budianto) |
Setelah dikirab, 18 gunungan raksasa itu dikumpulkan pada sebuah panggung di tengah lapangan. Ratusan warga yang sudah tak sabar ingin mendapatkan aneka hasil bumi, menjejali tepian panggung tersebut.
Tepat di ujung lantunan doa, warga berlompatan naik ke atas panggung berebut hasil bumi. Tak hanya kaum pria, ibu-ibu dan anak-anak tak mau ketinggalan ikut berjibaku di dalamnya. Dalam hitungan menit, aneka hasil bumi yang sebelumnya memenuhi panggung, ludes tak tersisa.
Ikfina menjelaskan, momen pembukaan bulan bhakti gotong-royong ini sekaligus untuk mengenalkan beragam inovasi produk olahan hasil bumi. Mulai dari aneka kripik, manisan buah dan sayur, hingga sirup buah dan sayur.
"Selain mengembangkan objek wisata yang ada di Pacet, Trawas dan Trowulan, kami juga mendukungnya dengan aneka makanan. Karena wisatawan juga membutuhkan oleh-oleh ketika berkunjung ke objek wisata," tandasnya.
Warga berebut gunungan hasil bumi (Foto: Enggran Eko Budianto) |












































Gunungan jeruk berasal dari kecamatan penghasil jeruk (Foto: Enggran Eko Budianto)
Warga berebut gunungan hasil bumi (Foto: Enggran Eko Budianto)