Setiap Tahun 500 Ribu Bayi Dilahirkan di Jatim, Program KB Gagal?

Setiap Tahun 500 Ribu Bayi Dilahirkan di Jatim, Program KB Gagal?

Rois Jajeli - detikNews
Sabtu, 06 Mei 2017 00:15 WIB
Setiap Tahun 500 Ribu Bayi Dilahirkan di Jatim, Program KB Gagal?
Foto: ilustrasi/thinkstock
Surabaya - Gaung program Keluarga Berencana (KB) mulai mengendor. Di Jawa Timur, angka kelahiran bayi mencapai 500 jiwa pertahun. Demikian pula, angka kematian pada ibu melahirkan juga masih tinggi.

"Mengapa gaung program KB sekarang tidak seperti dulu. Dengan adanya desentralisasi setelah era reformasi ini, banyak perubahan secara struktural kelembagaan maupun ketenagaan," jelas Kepala Kantor Perwakilan BKKBN Jawa Timur Kushindarwito di acara Sosialisasi kebijakan dan advokasi, komunikasi informasi dan edukasi KKBPK di sebuah hotel di Surabaya, Jumat (5/5/2017).

Ia menerangkan, tingkat kelahiran penduduk di Indonesia saat ini dinilai tidak ideal. Katanya, laju pertumbuhan penduduk idealnya adalah 1,1%. Tapi kondisi sekarang adalah 1,49%.

"Rata-rata kelahiran 4 sampai 5 juta jiwa per tahun. Itu tidak ideal. Kalau di Jawa Timur, rata-rata kelahiran sekitar 500 ribu bayi per tahun," ujarnya.

Dengan jumlah jiwa semakin banyak, maka diperlukan sandang, pangan, papan, dan pendidikan dan lapangan pekerja, dan harus menjadi perhatian dari pemerintah.

"Ini akhirnya, indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia menempati urutan ke 113 dari seluruh negara di Indonesia," ujarnya sambil menambahkan, IPM di Jawa Timur berada di urutan 15 dari 34 provinsi seluruh Indonesia.

Selain angka kelahiran tinggi, kata Kushindarwito, angka kematian ibu dan anak juga masih cukup tinggi. Setiap tahunnya sekitar 359 ibu meninggal per 100 ribu ibu melahirkan

Untuk meningkatkan IPM, salah satu upaya yang dilakukan yakni, masyarakat menjalankan program KB dan mengurangi jumlah pernikahan dini.

"Di daerah tapal kuda mulai dari Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, juga Madura, angka pernikahan di usia dini masih tinggi. Maka daerah tersebut akan menjadi prioritas utama kami, agar pernikahan usia dini dapat ditekan," tandasnya. (ugik/ugik)
Berita Terkait