Akademisi dari Berbagai Negara Asia Bahas Syarat Dosen Bergelar S-3

Rois Jajeli - detikNews
Sabtu, 06 Mei 2017 00:07 WIB
Foto: Rois Jajeli
Surabaya - Puluhan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di berbagai negara Asia berkumpul di Kota Surabaya. Para guru besar, dosen, peneliti yang berkumpul dalam acara Konferensi Internasional ke 13 ADRI (Ahli dan Dosen Republik Indonesia) tersebut bertukar informasi terkini tentang dunia ilmu pendidikan dan pengetahuan, perekonomian, hingga rencana menerapkan standar dan syarat dosen harus minimal bergelar S-3.

"Kami berkumpul disini dari berbagai negara, berbagai disiplin ilmu. Juga melibatkan berbagai rektor dari dalam dan luar negeri. Ini adalah kerjasama internasional untuk menghasilkan kualitas pendidikan yang bagus," kata Ketua Panitia Konferensi Internasional ke 13 ADRI Prof Supari Muslim, di gedung Bank Jatim, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, Jumat (5/5/2017).

Ia menerangkan, setiap tahun para guru besar, dosen dari berbagai perguruan tinggi seperti dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan beberapa negara di Asia dan ASEAN lainnya, membahas seluruh disiplin ilmu. Mulai dari teknologi, sains, ekonomi, bisnis, edukasi, matematika, vokasional.

"Semua ilmu yang dibahas disini itu bermanfaat. Dan ilmu yang dibahas itu adalah perkembangan ilmu dimasing-masing bidang yang mutakhir," ujarnya.

Dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini mencontohkan, salah satu materi yang dibahas para akademisi itu seperti bagaimana menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Yang dibahas adalah bagaimana standar kualitas pendidikan, bagaimana kerjasama antar 10 negara ini bisa dilakukan untuk kepentingan bersama masyarakat ASEAN. Itu termasuk bidak vokasional, termasuk yang dibahas sertifikasi tenaga kerja. jadi ASEAN sedang menuju bahwa ada standar tenaga kerja di industri. Itu tugas dunia pendidikan, untuk bagaimana supaya standar diusahakan bersama," jelasnya.

Ia mengatakan, Asia ke depan akan menjadi pusat perekonomian dunia. Katanya, selama ini yang menjadi perhatian dunia adalah negara di Eropa dan juga Amerika.

"Kedepan, perhatian dunia itu di Asia. Jadi masyarakat Asia sedang menjadi perhatian dunia. Karena itu kita sebagai pendidik sebagai guru bahwa, kita menyiapkan SDM agar kecenderungan dunia trendnya ke Asia itu bisa kita tangkap dengan baik. Jika tidak, itu akan lewat dan kita semua akan rugi," jelasnya.

Sementara itu, Rektor Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) Prof Dr Wahid bin Razzali menilai, kerjasama antar perguruan tinggi di Asia merupakan suatu keharusan, untuk meningkatkan standar mutu pendidikan. Katanya, UTHM sangat setuju dengan beragam sinergi di berbabagi bidang pendidikan.

"Kita ingin melaksanakan secepat mungkin adalah mobilisasi pelajar. Pelajar disini (Indonesia) bisa belajar di Malaysia dan juga sebaliknya pelajar dari Malaysia belajar dengan para ahli yang ada di Indonesia," ujar Prof Dr Wahid Razzali dengan menggunakan bahasa Malaysia.

Selain itu, berbagai akademisi tersebut juga akan membahas standar dosen yang mengajar di perguruan tinggi di wilayah Asia. Katanya, saat ini syarat untuk menjadi dosen adalah minimal pendidikan dengan S-2 (Strata dua). Kedepan, akan ada perubahan yakni dengan syarat minimal bergelar S-3.

"Kalau dari segi akademik, pembangunan dosen daripada S-2 ke S3. Kalau kita ingin hidup terus, maka standar ditingkatkan," tandasnya. (roi/bdh)