Jumlah Penderita HIV di Surabaya Turun

Jumlah Penderita HIV di Surabaya Turun

Zaenal Effendi - detikNews
Rabu, 03 Mei 2017 16:19 WIB
Jumlah Penderita HIV di Surabaya Turun
Foto: Internet / Quartz
Surabaya - Jumlah pengidap HIV di kawasan eks lokalisasi turun, pasca alih fungsi berkat upaya monitoring serta pemeriksaan berkala yang dilakukan Pemkot Surabaya.

"Kami terus melakukan monitoring di kawasan eks lokalisasi. Termasuk melakukan penyuluhan di kelurahan dan juga tempat-tempat umum seperti terminal. Kami juga meningkatkan pemahaman kepada warga agar tidak ada stigma negatif dan diskriminasi terhadap pengidap HIV," kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Surabaya, Febria Rahmanita kepada wartawan saat jumpa pers di Kantor Bagian Humas Pemkot Surabaya, Rabu (3/5/2017).

Dijelaskan Febria, dari tahun ke tahun, jumlah pengidap HIV yang ada di Surabaya mengalami penurunan. Dari jumlah 935 pengidap HIV pada 2014, turun menjadi 933 orang tahun 2015 dan kembali turun pada 2016 menjadi 923 orang.

Penurunan tersebut salah satunya upaya Pemkot untuk memulangkan wanita tuna sosial (WTS) ke daerah asalnya. Karena memang, mayoritas pekerja 'dunia hitam' ini berasal dari luar Surabaya.

Berdasarkan wilayah bekas lokalisasi, untuk wilayah eks lokalisasi Sememi yang dulunya 57 orang, kini menjadi lima orang, eks kawasan Dupak Bangunsari dari 68 orang menjadi empat orang. Serta di eks lokalisasi Dolly dari 110 menjadi 36 orang.

"Jumlah tersebut diketahui dari hasil pemeriksaan di Puskesmas dan juga hasil razia yang dilakukan Satpol PP di kawasan eks lokalisasi ataupun di kos-kos an yang awalnya positif narkoba kemudian kami tes HIV. Tidak semuanya merupakan WTS, ada juga ibu rumah tangga, karyawan, buruh kasar juga seniman," jelas Febria.

Berdasarkan data tersebut, jumlah penyandang HIV di Surabaya memang terbilang masih cukup tinggi. Dan itu tidak lepas dari fakta banyaknya jumlah penduduk Surabaya serta semakin bertambahnya warga pendatang. Apalagi, dari hasil temuan, jumlah warga Surabaya dan luar Surabaya adalah satu berbanding 10.

"Semakin banyak penyandang HIV ditemukan, itu berarti surveillance (pengawasan) kita bagus. Dan yang terpenting adalah kami terus melakukan pendampingan dengan dipantau minum obatnya atau bisa kita rujuk ke rumah sakit," jelas pejabat yang juga dokter gigi ini.

Di Surabaya ada 9 rumah sakit untuk melakukan pengobatan pengidap HIV. Di antaranya RSUD Soewandhie, RSUD Bakti Darma Husada (BDH), RSAL, RS Bhayangkara dan RS Unair. Serta ada tujuh Puskesmas yakni Putat, Perak Timur, Sememi, Dupak, Jagir, Kedurus dan Kedung Doro.

"Itu untuk pengobatan ARF (Anti Retrofarial). Kalau untuk pemeriksaan sudah bisa ke seluruh Puskesmas. Kami punya 63 Puskesmas dan kami punya data plus alamat penyandang HIV," pungkas Febria. (ze/fat)
Berita Terkait