Menurutnya, tantangannya tak hanya mampu menyaring informasi berbau berita bohong (hoax). Tapi pelajar juga bisa memilah dan memilih informasi sesuai dengan kapasitasnya.
"Di hari pendidikan ini pelajar harus cerdas memilih informasi yang penting sesuai dengan kebutuhan. Ini penting, karena bukan hanya sekedar menepis hoax tapi pelajar juga mampu menolak informasi yang tidak produktif yang tidak patut dikonsumsi se usianya, karena perlu memilih informasi yang jelas dan prioritas," ungkap Anas usai memimpin upacara peringatan Hardiknas di Taman Blambangan Banyuwangi, Selasa (2/5/2017).
Foto: Putri Akmal |
Meski berada di era keterbukaan informasi dengan jaringan internet yang mudah diakses, sambung Anas, informasi dan ilmu tidak melulu semuanya bisa diakses melalui gawai. Buku juga menyediakan jutaan ilmu yang lebih lengkap dan berbobot.
Ia menyarankan kepada para pelajar untuk memulai kebiasaan membaca sejak saat ini. Pihak sekolah, orang tua dan para pelajar diminta untuk bisa lebih bijaksana dan ramah memasukkan saduran informasi sebelum digodok kedalam 'software otak'.
"Jutaan informasi sekarang ini berseliweran. Kalau tidak dipilih maka software otaknya tidak mampu. Dan tugas sekolah dan orangtua ini mendorong bisa memilih informasi yang sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Maka para pelajar, gunakan waktu yang baik ini untuk belajar. Pilihlah informasi yang baik, yang tidak baik segera ditinggalkan," pungkasnya. (fat/fat)












































Foto: Putri Akmal