DetikNews
Jumat 21 April 2017, 11:15 WIB

Mbah Boni, Kartini Banyuwangi yang Dikenal Tak Pernah Menyerah

Ardian Fanani - detikNews
Mbah Boni, Kartini Banyuwangi yang Dikenal Tak Pernah Menyerah Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Keuletan Mbah Boni, warga Desa Kepundungan Kecamatan Srono Banyuwangi ini mencerminkan kegigihan Kartini di eranya. Tak pernah lelah dan menyerah meski digerus zaman, wanita berusia lanjut ini tetap melestarikan mainan tradisional.

Di usianya yang sudah tua, Mbah Boni tidak mau menggantungkan hidup kepada anak-anaknya. Mbah Boni memilih tetap bekerja membuat mainan anak-anak dari tanah liat, demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan keringatnya sendiri. Bahkan, dia masih bisa menyisihkan uang saku sekolah cucu-cucunya.



Mbah Boni memang ahli membuat permainan anak yakni Kempling (Rebana dari kertas semen). Tak hanya kempling, Mbah Boni juga membuat kerajinan tanah liat seperti vas bunga, cobek dan piring dari tanah liat. Dengan cekatan, Mbah Boni membuat gumpalan tanah liat yang dicampur air menjadi cetakan barang sesuai dengan keinginannya.

Tak lupa, dia memutar alat pencetak tradisional dengan sebelah tangannya. Selanjutnya cetakan tanah liat tersebut sudah menjadi cobek dan kerangka kempling dari tanah liat. Cobek dan kerangka kempling kemudian dijemur dipanas terik matahari. Selanjutnya dibakar hingga 4 hari.

Mbah Boni bercerita, dirinya sudah membuat kerajinan permainan anak dari tanah liat itu sejak zaman penjajahan Jepang di Indonesia. Kala itu sekitar tahun 1942-1945. Kala itu hampir seluruh tetangganya berprofesi sebagai pengrajin alat-alat yang terbuat dari tanah liat itu.

"Pun dangu kulo ndamel kempling, cuwek kale wadahe kembang. Pas niku kulo tasih perawan diajari ndamel ngeten niki. Kolo niku zaman Jepang kulo pun ndamel. (Sudah lama saya buat kempling, cobek dan vas bunga.pas itu saya masih perawan diajari membuat seperti ini. Saat itu masih zaman penjajahan Jepang," ujar mbah Boni, saat detikcom mengunjungi kediamannya, Jumat (21/4/2017).

Kala zaman penjajahan Jepang, tambah Mbah Boni, sebuah kerajinan yang dibuatnya hanya dihargai Rp 2. Dan saat ini, Mbah Boni menjual hasil karyanya tersebut tidak lebih dari Rp 500–100 rupiah per biji. Mbah Boni bisa menjual kerajinan dari tanah liat 20-25 unit per hari. Bahkan dia mengaku meski saat ini tidak banyak yang membeli, terkadang kempling yang dibuatnya diberikan secara cuma-cuma ke anak tetangga yang menginginkan alat permainan itu.

"Kulo kadang mboten mentolo yen wonten lare alit nangis. Nggih kulo sukaaken kemplinge kersane mboten nangis. (Saya kadang tidak tega jika melihat anak kecil nangis. Saya kadaang memberikan secara cuma-cuma agar tidak menangis," kenang wanita yang mengaku asli Kota Kediri ini.

Mbah Boni mengaku membuat kerajinan dari tanah liat mulai pagi pukul 08.00 wib. Dia hanya menggunakan jam dengan tanda kemiringan bayangan dari sinar matahari. "Pokoke yen srengengene wes kenek lawang yo ngasoh. (Pokoknya kalau sinar mataharinya sudah kena pintu rumah, saya istirahat)," jelasnya.

Mbah Boni tak mengetahui berapa usianya saat ini. Namun yang diingatnya hanyalah cerita orangtuanya dulu, bahwa dia lahir bersamaan dengan Ratu Juliana, anak dari Ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie (30 April 1909). Kala itu Belanda memberikan sayembara kepada warga pribumi yang melahirkan bersamaan dengan Ratu Wilhelmina akan mendapatkan hadiah. Jika dihitung, Mbah Boni memiliki usia sekitar 108 tahun.

"Kolo niku wong tuwo kulo mboten angsal beras kaleh minyak. Lah wong kulo lahir sore, ratu Juliana lahir isuk. Niku mawong sing kulo inget. Jaman niko mboten enten tanggalan. Lah kulo mboten sekolah. Mboten saget ongko. (Saat itu orang tua saya tidak dapat hadiah beras dan minyak. Lah saya lahir sore ratu lahir pagi. Itu saja yang saya ingat. Zaman itu belum ada tanggalan. Saya ttidak pernah sekolah. Tidak bisa membaca huruf dan angka," tambahnya.

Saat ditanya apakah tidak ingin berhenti bekerja karena usia sudah tua? Mbah Boni tidak mau berhenti. Sebab, pekerjaan yang dilakoni sejak era penjajahan Jepang tersebut sudah menjadi menu kegiatan sehari-hari. Bila sehari saja tidak membuat kempling, Mbah Boni merasa ada sesuatu yang kurang. "Rasane mboten echo (rasanya nggak enak)," pungkasnya.
(fat/fat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed