Berdayakan Masyarakat, Pendamping Desa juga Deteksi Penderita Kusta

Berdayakan Masyarakat, Pendamping Desa juga Deteksi Penderita Kusta

Rois Jajeli - detikNews
Kamis, 20 Apr 2017 15:05 WIB
Berdayakan Masyarakat, Pendamping Desa juga Deteksi Penderita Kusta
Foto: Istimewa
Surabaya - Keberadaan pendamping desa tidak hanya mendorong warga untuk memajukan desanya. Tetapi juga peka terhadap lingkungan sosialnya, seperti segera melaporkan warga desa yang menderita penyakit Kusta.

"Pendamping desa juga diharapkan dapat membantu pemerintah dalam memerangi penyebaran penyakit kusta dan tuberculosis," kata Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat menyampaikan pesannya di acara Orientasi Pengelola Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (Jalin Matra) di Hotel Selecta, Kota Batu, Rabu (19/4/2017) malam.

Dari informasi yang didapat Gus Ipul (sapaan akran Wagub Jatim), Indonesia merupakan negara terbesar ketiga penderita kusta setelah India dan Brasil. Di Indonesia, Jawa Timur menempati urutan pertama terbanyak penderita kusta.

Selain kusta, angka penderita tuberculosis (TBC) juga masih tinggi di Jawa Timur. Diharapkan, pendampig desa juga respon dengan penderita kusta dan TBC, dan melaporkan keberadaan penderita tersebut.

"Pendamping desa juga ikut membantu agar kusta dan TBC tidak menyebar lebih luas lagi. Kusta dan TBC bisa disembuhkan, asal dilakukan penanganan cepat dan segera dibawa ke puskesmas atau dokter terdekat," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Wagub juga menyampaikan, pendamping desa bisa memajukan desanya dengan cara, bersinergi dan membantu perangkat serta kepala desa.

"Fungsi tenaga pendamping adalah bekerjasama dengan kepala desa, dalam memperkuat tata kelola desa serta evaluasi dan monitoring program yang dijalankan," terangnya.

Menurutnya, desa tersebut bisa dikatakan maju apabila salah satu indikatornya seperti, laju urbanisasi dapat ditekan. Warga di desa lebih senang bekerja di desanya tanpa harus pergi ke kota.

"Bagaimana pendamping desa ini bisa mengajak warga untuk lebih senang bekerja di desa dan tidak bekerja ke luar kota," tuturnya.

Ia menambahkan, anomali yang kini terjadi di desa yakni, dimana laju pertumbuhan inflasi lebih tinggi dibandingkan dengan kota. Menurutnya, hal itu menjadi pekerjaam rumah yang harus segera ditangani.

"Inflasi di desa tinggi karena petani lebih suka menjual produknya sebelum panen. Misalnya, gabah yang dijual ke kota. Sedangkan masyarakat desa harus membeli beras dari kota," ujarnya.

Katanya, laju inflasi yang tinggi akan menjadikan ketimpangan dan kemiskinan akan semakin tinggi juga. Belum ditambah kondisi pelayanan dasar, ketersediaan air bersih, pengetahuan tentang gizi, snitasi, di desa yang belum sepenuhnya baik.

"Di sinilah fungsi pendamping desa yang harus bisa bersinergi dengan kepala desa, tokoh masyarakat, untuk terus melakukan pendampingan kepada masyarakat," pungkasnya. (roi/fat)
Berita Terkait