Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Agung Vidi mengatakan, dirinya bersama tim telah melakukan kajian terhadap situs Watu Piring yang terletak di lereng Pegunungan Anjasmoro, Senin (10/4). Pihaknya memastikan, struktur bangunan yang tersusun dari tumpukan lempengan batu itu bukan situs purbakala.
"Sebenarnya singkapan batuan yang tampak pasca banjir dan longsor di Begaganlimo itu merupakan fenomena alam biasa," kata Vidi dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Rabu (12/4/2017).
Vidi menjelaskan, kawasan Gondang, termasuk tempat struktur Watu Piring ditemukan, masuk dalam zona Kendeng Timur. Dalam peta geologi Van Bemmelen (1949), zona tersebut berupa endapan-endapan Kenozoikum akhir yang berumur pliosen-pliatosen. Jenis bebatuan penyusunnya terdiri dari batu pasir berlapis napalan, batu pasir gampingan, dan perlapisan napal pasiran.
Foto: Enggran Eko Budianto |
"Zona itu kira-kira berumur 2-5 juta tahun. Jadi, intinya lokasi di Begaganlimo bukanlah hasil budaya manusia, itu terbentuk karena alam," terangnya.
Baca Juga: Struktur Batu Mirip Candi Ditemukan Warga di Lereng Anjasmoro
Struktur Watu Piring ditemukan warga beberapa saat setelah terjadi banjir bandang di Desa Kalikatir, Kecamatan Gondang akhir Maret 2017. Situs tersebut berada di lereng Pegunungan Anjasmoro yang terletak di atas Desa Kalikatir. Diduga air dari pegunungan menggerus material tanah yang sebelumnya menutup struktur bebatuan tersebut.
Oleh warga setempat, struktur bebatuan berundak itu diyakini sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Kahuripan. Pasalnya, lempengan bebatuan tersusun cukup rapi sehingga menyerupai bangunan candi. Warga juga mengaitkan struktur tersebut dengan situs Watu Bancik yang ditemukan lebih dulu. Watu Bancik sendiri telah ditetapkan sebagai situs purbakala peninggalan Kerajaan Kahuripan. (fat/fat)












































Foto: Enggran Eko Budianto