DetikNews
Selasa 11 April 2017, 15:23 WIB

Kepala Makin Membesar, Balita di Banyuwangi ini Butuh Bantuan

Putri Akmal - detikNews
Kepala Makin Membesar, Balita di Banyuwangi ini Butuh Bantuan Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Usia Farhan Sanjaya baru 1,5 tahun. Namun diameter kepalanya lebih dari 1 meter. Tubuh Farhan seakan tak mampu bergerak lantaran kepalanya terus membesar. Obat apapun sudah diupayakan, namun kelainan yang dialami sejak dalam kandungan membuat Farhan memprihatinkan.

Kondisi Farhan kian memprihatinkan bukan lantaran pembiaran dari orangtuanya. Namun karena kondisi keuangan pasangan Suraji dan Lilik Winarti, warga Dusun Pandan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, ini tak mencukupi untuk membawanya ke dokter.

Lilik Winarti yang hanya bekerja serabutan di Kota Genteng dan suaminya, Suraji hanya sopir material, membuat mereka pasrah. Selama 15 bulan terakhir, Lilik dan keluarganya berulang kali melaporkan kondisi Farhan baik ke kepala dusun, kepala desa hingga pegawai puskesmas setempat.

Tujuan laporannya hanya satu, yakni anak semata wayangnya bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis seperti yang diprogramkan pemerintah. Namun saat itu upayanya masih nihil. Hingga suatu ketika ada tetangga dan salah satu anggota DPRD Banyuwangi yang nekat membawa Farhan berobat ke rumah sakit.

"15 Bulan lebih lapor ke desa dan puskesmas tapi tidak diperhatikan. Saya kan orang tidak tahu apa-apa. Yang bantu bawa kesini Pak Ali Mustofa (salah satu anggota DPRD Banyuwangi)," kata perempuan yang akrab disapa Lilik kepada detikcom saat ditemui di Ruang Mas Alit, RSUD Blambangan, Selasa (11/4/2017).

Lilik mengaku pembengkakan kepala pada buah hatinya, pertama kali diketahui saat masa kehamilan 7 bulan. Lantaran terus membesar, proses kelahiran terpaksa dilakukan melalui operasi caesar.

"Baru setelah 7 bulan USG di dokter terus ketahuan kalau ternyata hydrocephalus," imbuhnya sambil menangis.

Pengobatan di rumah sakit berplat merah bagi kedua orang tuanya, merupakan harapan baru bagi kesehatan Farhan, buah hatinya. Sebab sebelum ditangani medis, Farhan hanya dirawat di rumah orang tua Lilik, Dusun Kedunen, Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari.

Keterbatasan ekonomi yang membuat mereka tak bisa berbuat banyak untuk melakukan pengobatan rutin ke dokter. Kini semua pengobatan dan perawatan sedang dalam proses penanganan BPJS. Meski begitu, Lilik masih membutuhkan bantuan untuk penanganan kebutuhan gizi dan perawatan lebih intensif.

"Ini sedang dibantu ngurus BPJS untuk keperluan di rumah sakit. Kebutuhan yang lain masih belum tau, semoga saja diberi kemudahan dan ada pertolongan," lirihnya.

Direktur RSUD Blambangan dr Taufik Hidayat mengaku Farhan saat ini masih diobservasi oleh dokter spesialis di rumah sakit tersebut. Jika dilihat dari silsilahnya, sejak dalam kandungan Farhan mengalami malformasi. Dari saluran ini biasanya terjadi pada usia kehamilan 6-17 minggu dan biasanya disertai gangguan otak.

Penyakit ini mengakibatkan cairan serebrospinal dalam otak bertambah banyak. Dan selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya pusat-pusat saraf yang vital. Beberapa langkah yang bisa diambil salah satunya melakukan penanganan operasi pada balita tersebut.

"Masih diobservasi oleh dokter spesialis. Dan kita sudah menawarkan apakah keluarga setuju jika dilakukan operasi. Keluarga juga sudah menyatakan setuju," pungkasnya.

Dari pantauan detikcom, tubuh mungil Farhan kini hanya bisa tergolek lemah. Tanpa bisa bergerak seperti balita pada usianya. Beberapa selang alat bantu pernapasan dan infus dipasang di bagian tubuhnya. Sesekali tedengar suara tangis lirih Farhan menandakan kesakitan atau haus.
(fat/fat)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed