Wanita usia 35 tahun mengaku tak mendapat firasat apapun sebelum suaminya tertimbun longsor. Tatapan mata suaminya menolak untuk pulang karena menjelang dhuhur dan waktunya makan tersebut adalah hal yang tak bisa dilupakan. Paidi memilih menyelesaikan pekerjaannya menyabit rumput di areal persawahan. Sarinah menganggap penolakan suaminya itu hal yang biasa. Tapi hal itu justru membuat Sarinah tak bisa bertemu dengan suaminya selama-lamanya.
"Saya dan suami saya serta menantu saya di sawah," kata Sarinah terisak di rumahnya di Dusun Njati, Desa Blongko, saat menceritakan kesaksiannya di depan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Senin (10/4/2017) malam.
Ia menceritakan, aktivitas rutin dilakukan keluarga Paidi setiap hari yakni pergi ke sawah. Saat itu, warga desa lainnya juga beraktivitas seperti biasa di sawah.
Identitas Paidi korban longsor di Nganjuk Foto: Rois Jajeli |
Menginjak siang dan memasuki salat dzuhur, Sarinah dan menantunya, selesai mencangkul di sawah dan akan kembali ke rumahnya yang jaraknya sekitar 2 Km. Sarinah dan Joko meminta Paidi untuk ikut pulang ke rumah.
"Saya sudah mengajak bapak untuk pulang. Anak menantu saya juga sudah mengajak pulang, tapi juga nggak mau. Katanya ingin menyelesaikan ngarit dulu," ujarnya.
Sarinah dan menantunya pun beranjak dari sawah. Sedangkan suaminya yang ada di ujung pematang sawah masih tetap beraktivitas mengarit rumput. Tiba-tiba tanpa suara gemuruh musibah longsor terjadi dan mengubur suaminya yang sedang mengarit.
Wagub Jatim doa bersama dengan keluarga korban longsor Foto: Rois Jajeli |
"Saya berjalan sudah 10 langkah. Menantu saya baru tiga langkah jalan, tiba-tiba ada longsor. Saya dan menantu saya sudah tidak mampu lagi menyelamatkan bapak," tuturnya sembari menghela nafas.
Ibu dari dua anak ini mengaku tidak mendengar suara gemuruh longsor dari bukit. Tiba-tiba saja ada longsoran sepanjang sekitar 300 meter dengan ketinggian sekitar 30-50 meter, dari permukaan sungai dekat dengan areal sawah Paidi.
"Saya tidak mendengar sama sekali. Saya hanya melihat kepulan asap (akibat dari tanah longsor) saja. Saya lihat bapak sudah tidak ada, tertimbun longsor," tuturnya.
Meski pasrah, Sarinah tetap berdoa agar jasad suaminya dapat ditemukan oleh tim evakuasi gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan elemen masyarakat lainnya.
Anak Paidi shock saat melakukan doa bersama Foto: Rois Jajeli |
Sementara Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf bersama keluarga dan tetangga korban, Paidi menggelar doa bersama yang dipimpin oleh modin (tokoh agama setempat). Di lokasi, hadir pula Komandan Tim Penanganan Kedaruratan Bencana Longsor di Kecamatan Ngetos yang juga Dandim Nganjuk Letkol (Arh) Sri Suryono, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Sudarmawan.
Saat doa bersama itu, Emi Lestari, anak kedua dari pasangan Paidi-Sarinah, yang juga istri dari Joko, tak kuasa menahan air mata yang meleleh di pipinya.
Wagub pun berusaha menenangkan dan ikut mendoakan agar orang tuanya maupun keempat korban lainnya, juga ditemukan oleh tim evakuasi.
"Sabar nggih bu. Pak Dandim (Dandim Nganjuk Letkol Arh Sri Saryono) yang ditunjuk pak bupati (Bupati Nanjuk Taufiqurrahman) untuk memimpin pencarian korban. Alat berat sudah datang, mudah-mudahan korban bisa ditemukan," ujar Wagub Gus Ipul. (roi/fat)












































Identitas Paidi korban longsor di Nganjuk Foto: Rois Jajeli
Wagub Jatim doa bersama dengan keluarga korban longsor Foto: Rois Jajeli
Anak Paidi shock saat melakukan doa bersama Foto: Rois Jajeli