Seluruh siswa yang berjumlah 170 anak tersebut dijadikan satu di serambi Masjid Ibadus Sholihin yang tak jauh dari sekolah semula.
"Jarak sekolah kami dengan titik timbunan material longsor itu hanya 50 meter, sehingga kami masih takut apabila terjadi longsor susulan," kata Guru Agama Islam SDN Banaran, Sudarsio, Rabu (5/4/2017).
Pihaknya mengaku, pemindahan lokasi belajar mengajar dilakukan sejak Selasa (4/4). Selama dua hari terakhir dari 170 siswa, hanya 50 anak masuk sekolah, sedangkan 120 sisanya masih trauma dan belum masuk.
Pihaknya menduga para siswanya tidak masuk sekolah, karena masih trauma atas kejadian longsor besar yang terjadi Sabtu (1/4) lalu.
"Karena peristiwa tersebut berlangsung saat seluruh siswa mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Begitu ada tanah longsor semua semburat lari untuk menyelamatkan diri," ujarnya.
Kegiatan belajar mengajar dipindah ke masjid Foto: Adhar Muttaqin |
Dari data yang dilansir pihak sekolah, jumlah siswa SDN Banaran yang terdampak tanah longsor sebanyak 12 anak. Dengan rincian 3 anak kehilangan kedua orang tua, satu anak kehilangan ibu dan adik, satu siswa dan satu siswa kehilangan ayah.
"Untuk kondisi rumah dari 12 anak tersebut hancur dan terkubur dalam tanah. Kami sangat berduka sekali dengan kejadian bencana ini," ujarnya.
Meskipun kegiatan belajar mengajar telah dimulai, namun aktivitasnya belum berjalan normal. Untuk sementara kegiatan di sekolah darurat diisi dengan "trauma healing" untuk menggembalikan kondisi psikologis siswa pasca bencana.
Sudarsio menambahkan, sekolah pemindahan lokasi belajar ini rencanaya akan dilakukan selama dua minggu. Diharapkan masa 14 hari telah cukup untuk menghilangkan trauma siswa.
"Sekolahnya masih tutup, karena ada longsor. Kami masih takut kalau sewaktu-waktu ada (longsor) susulan," kata salah seorang siswa, Kayla.
Menurutnya pada hari ini aktivitas di sekolah diisi dengan bernyanyi, serta bermain origami. (fat/fat)












































Kegiatan belajar mengajar dipindah ke masjid Foto: Adhar Muttaqin