Tim medis posko pengungsian, dr Rafika, Selasa (4/4/2017) mengatakan, keluhan para pengungsi saat ini rata-rata adalah capek, hipertensi dan sakit kepala, sedangkan anak-anak sebagian mengalami sakit batuk dan flu.
"Ini tensi darahnya tinggi karena kepikiran peristiwa kemarin, memikirkan keluarganya yang seperti ini dan lain-lain, kalau untuk anak memang batuk pilek, ini karena cuacanya juga yang kurang bersahabat," katanya.
Dari puluhan pengungsi yang ada di posko pengungsian, terdapat satu lansia yang harus dirujuk ke rumah sakit karena mengalami demam tinggi dan sesak nafas. Namun secara umum para korban longsor dalam kondisi sehat.
"Jadi kalau ada yang sakit kami tangani dengan diberi obat-obatan, namun apabila dalam kurun waktu tiga hari tidak kunjung sembuh maka akan dirujuk ke puskesmas maupun rumah sakit," jelasnya.
Rafika menambahkan, sejumlah keluhan yang disampaikan para pengungsi merupakan hal yang wajar di setiap lokasi pengungsian. Kondisi tersebut lebih karena pengaruh psikologis pengungsi yang masih mengalami trauma.
Pihaknya mengaku, selain pendampingan medis, pemulihan psikologis para pengungsi merupakan tindakan yang penting dilakukan. Karena akan berpengaruh langsung pada kesehatan.
Foto: Adhar Muttaqin |
Sementara itu, salah seorang pengungsi, Damiyem mengaku mengalami sakit kepala sebelah sejak kejadian tanah longsor Sabtu lalu. Selain itu ia juga masih trauma.
"Kalau mendengar pesawat atau gemuruh itu rasanya seperti terjadi longsor lagi," katanya.
Sesuai data di Posko Bencana BPBD Ponorogo, jumlah pengungsi korban longsor mencapai 178 orang. Pengungsi tersebut tersebar di beberapa titik. Sedangkan untuk puluhan korban yang dinyatakan hilang Higga saat ini baru tiga korban yang berhasil ditemukan, 25 sisanya masih dalam proses pencarian. (bdh/bdh)












































Foto: Adhar Muttaqin