Konsumsi Air di Kota Surabaya Tertinggi Dibandingkan Nasional

Konsumsi Air di Kota Surabaya Tertinggi Dibandingkan Nasional

Rois Jajeli - detikNews
Senin, 03 Apr 2017 15:50 WIB
Foto: Rois Jajeli
Surabaya - Konsumsi air di Kota Surabaya tertinggi dibandingkan dengan rata-rata konsumsi air secara nasional. Rata-rata setiap warga mengkonsumsi air (PAM) mencapai 180-200 liter per orang per hari.

"Masyarakat Surabaya ini adalah masyarakat yang penggunaan airnya terbesar di Indonesia. rata-rata penggunaannya antara 180-200 liter per hari per orang. Sedangkan rata-rata nasional sekitar 120 liter per hari," kata Edi Rusianto, Anggota Badan Pengawas (Bawas) PDAM Surya Sembada Surabaya, disela acara tasyakuran dan deklarasi dibukanya 'Museum' Rumah Air Surabaya, di Jalan Basuki Rahmat, Senin (3/4/2017).

Edi yang pernah menjadi anggota DPRD Surabaya dari Partai Gerindra ini mengatakan, warga Surabaya sangat boros dalam hal konsumsi air.

"Kenapa mereka boros. Karena mereka banyak tidak memahami kegunaan daripada air, dan bagaimana cara proses pengolahan air itu didapat," ujarnya.

Ia menambahkan, tarif air PDAM di Surabaya adalah termurah dibandingkan dengan daerah lain. Katanya, masih ada tarif Rp 350 per meterkubik. Padahal, biaya produksi pengolahan air di PDAM hingga distribusi dan dikonsumsi masyarakat sebesar Rp 2.200.

"Artinya, PDAM mensubsidi. Subsidi dari mana? dari pelanggan kita yang komersial seperti maal, hotel, rumah besar, yang jumlah mereka sekitar 30 persen dari seluruh konsumsen 549.000. Mohon maaf, kalau rumah biasa bukan rumah mewah pasti masih disubsidi oleh PDAM Kota Surabaya," tuturnya.

Edi mengatakan, dengan kehadiran 'museum' Rumah Air Surabaya, maka masyarakat bisa mengetahui bagaimana sejarah air PAM yang dikonsumsi masyarakat di Surabay sejak era Tahun 1890-an hingga sekarang.

"Masyarakat harus tahu, makanya kita buat Rumah Air. Ini bisa mengedukasi masyarakat dan mengajak masyarakat untuk tidak boros. Karena kita tahu, bahwa sumber air sangat terbatas. Mulai dari zaman Belanda, Surabaya tidak memiliki sumber air bersih. Tahun 1890-an mengambil air dari Pasuruan dengan naik kereta. Artinya Surabaya waktu itu sebetulnya tidak punya air baku yang emmadai, tapi konsumennya luar biasa," ujarnya.

Ia berharap, Rumah Air ini akan mengubah pola pikir dan konsumsi masyarakat tentang air.

"Makanya kita buat Rumah Air ini agar sejarah sebagaimana proses produksi sampai distribusi ke masyarakat. Supaya masyarakat kebih hemat. Itu harapan kita," tandasnya. (roi/bdh)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.