"Saya pergi atas kemauan saya sendiri. Saya merasa nggak betah di rumah dan saya ingin bebas dari rumah. Ada sih masalah keluarga," ujar Beatrix kepada wartawan di Polrestabes Surabaya, Selasa (21/3/2017).
Secara tersirat, Adrianus Tjong, ayah Beatrix mengaku bahwa ia cukup keras mendidik anaknya. Tetapi itu dilakukannya untuk mendidik sekaligus melindungi Beatrix yang merupakan anak perempuan.
"Marah kepada anak itu wajar, dalam rangka mendidik. Saat saya tanyakan tugas sekolah dan dia tak menjawab, saya marah. Saya juga melihat dengan siapa dia berteman. Kalau temannya ngak jelas, saya panggil dia. Tetapi dia malah marah-marah," kata Adrianus.
Joko saat diperlihatkan ke media (Foto: Imam Wahyudiyanta) |
Kepada wartawan, Joko mengakui bahwa dialah yang membelikan tiket Beatrix ke Palangkaraya. Mereka memang sudah berpacaran sejak November tahun lalu. Joko memang adalah pacar Detta, teman Betarix. Saat hubungan itu renggang, Beatrix disuruh Detta menjadi perantara untuk bertemu Joko.
"Saat itu bulan September, di Monumen Kapal Selam," kata Joko.
Pria yang bekerja di hotel itu kemudian meminta nomor telepon Beatrix. Dari situ mereka kemudian berkomunikasi melalui aplikasi percakapan. Pada November 2016, Joko datang ke Surabaya. Saat itulah mereka jadian.
Joko juga membenarkan bahwa pada Januari 2017 lalu, dia telah membelikan tiket Beatrix menuju ke Palangkaraya. Tetapi sebelum Beatrix berangkat, dia telah ditemukan orang tuanya. Namun Adrianus tak tahu mengenai hal itu.
Beatrix diserahkan ke orang tuanya (Foto: Imam Wahyudiyanta) |
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga mengatakan bahwa apa yang dilakukan Joko terhadap Beatrix telah masuk dalam ranah pidana. Joko telah melakukan perbuatan cabul kepada Beatrix yang masih di bawah umur.
Atas perbuatannya, Joko dijerat dengan pasal 332 ayat 1 KUHP tentang membawa lari anak di bawah umur dan pasal 81 UU RI No.35 tahun 2014 tentang perubahan UU RI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.
"Kedua pasal itu ancaman hukumannya 7 tahun penjara," tandas Shinto. (iwd/gik)












































Joko saat diperlihatkan ke media (Foto: Imam Wahyudiyanta)
Beatrix diserahkan ke orang tuanya (Foto: Imam Wahyudiyanta)