Sejak awal tahun 1990 Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kab/Kota Blitar memutuskan melaksanakan Melasti di Pantai Jolosutro ini.
"Dulu dilaksanakan di Blumbang Gede Nyunyur Soso, Gandusari. Setelah ada pengembangan wawasan kami menilai Pantai Jolosurtro lebih sakral karena lebih sesuai pada sastra suci, Amet sarining tirta kamandalu ritelenging samudra ( untuk mengambil sari-sarinya air kehidupan di tengah samudra) ," jelas Panitia Melasti, Yuliono pada detikcom di sela acara.
Foto: Erliana Riady |
"Ceritanya banyak orang disuruh mathoki (memasang patok di tepi laut). Malam dipasang tapi pagi sudah hilang hanyut diterjang ombak. Sampai banyak yang meninggal tidak sempurna," jelas Yuliono.
Menurut Yuliono, banyak roh belum mencapai kesempurnaan, karena salah pati. "Diharapkan dengan Melasti bisa menyucikan roh agar mencapai kesempurnaan atau sampurno moksa. Sehingga energi negatif di dunia semakin berkurang," ungkapnya.
Upacara Melasti dilaksanakan untuk menyucikan jagad ageng dan jagat alit ( komunikasi manusia secara horisontal dan vertikal) untuk menjalani hari raya nyepi 1939 saka.
Foto: Erliana Riady |
"Saya sangat bersyukur, karena terciptanya harmoni antar umat beragama di Blitar ini. Acara hari ini bisa terlaksana dari kerjasama semua umat beragama, tidak hanya umat Hindu saja, bahkan Banser saya lihat full team membantu pengamanan dan pengaturan lalu lintas," ucap Rijanto dalam sambutannya. (iwd/iwd)












































Foto: Erliana Riady
Foto: Erliana Riady