Pelajar Lamongan Ciptakan Deterjen Ramah Lingkungan dari Pepaya

Pelajar Lamongan Ciptakan Deterjen Ramah Lingkungan dari Pepaya

Eko Sudjarwo - detikNews
Selasa, 14 Mar 2017 11:24 WIB
Pelajar Lamongan Ciptakan Deterjen Ramah Lingkungan dari Pepaya
Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan - Berawal pemberitaan sungai yang tercemar hingga berbusa, membuat pelajar Lamongan membuat terobosan baru dengan mengolah detergen ramah lingkungan. Pelajar SMAN 1 Kedungpring, Lamongan, ini berhasil menciptakan bio-deterjen dari bahan-bahan dengan memanfaatkan tanaman di sekitar rumah.

Mereka yakni Wulida Hayuning Bidari dan Rizma Amelia. Selama ini, bahan-bahan deterjen yang dibuat pabrik mengandung kimia atau sintetik, yang akhirnya menjadi limbah berbahaya. Bahkan kandungan kimianya bisa menurunkan kualitas air dan pencemaran di sungai-sungai.

"Senyawa dari zat kimia deterjen juga bertahan lama dan memunculkan bau tak sedap," kata salah seorang pelajar, Wulida kepada wartawan saat mempraktekkan pembuatan deterjen, Selasa (14/3/207).

Wulida mengaku, bahan yang menjadi pilihan adalah pepaya dan lidah mertua (Sansevieria). "Kami mengkombinasikan antara getah pepaya muda dan lidah mertua," ujarnya.

Menurut Wulida, getah pepaya dan sari sansevieria memiliki berbagai kandungan seperti yang dimiliki deterjen buatan pabrik dan ramah terhadap lingkungan. Ia menjelaskan pembuatan bio-deterjen ini tidak menggunakan penambahan bahan kimia sintetis sehingga tidak menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sebab, hanya membutuhkan getah pepaya, sari sansevieria, air dan ethanol.

"Proses, kita ambil getah pepaya dengan cara disadap, kemudian untuk sansevieria-nya kita parut dan kita ambil sarinya," tutur Wulida dengan didampingi Rizma.

Wulida menjelaskan, proses pembuatan bio-deterjen dimulai dengan memanaskan getah pepaya dengan air, yang lantas ditambah dengan garam. Sementara, untuk sansevieria ditambahkan ethanol dan air panas untuk melarutkan klorofil dan zat-zat yang lain.

Kemudian, kata Wulida, mereka mengkombinasikan antara ekstrak sari sansevieria dan getah pepaya yang telah diproses tadi. Setelah pencampuran, sambung Wulida, bio-deterjen disempurnakan dengan menambahkan pewangi dan jadilah deterjen ramah lingkungan yang mereka sebut frigent tersebut.

"Menurut literatur di getah pepaya itu ada enzim protease yang bisa meremak protein, protein merupakan kompone dari noda, dan sansevieria ada kandungan saponin yang bisa membuat busa dan bisa mengangkat noda lemak," paparnya.

Ia menyebut, "Frigent" yang dibekali dengan jargon "save environment dan save generation" ini dapat menjadi solusi masalah pencemaran lingkungan akibat deterjen kimia yang mengandung zat kimia berbahaya. Sesuai jargon dalam label produk "Frigent", Bio-Deterjen hasil karya siswi SMAN 1 Kedungpring ini rencananya akan diproduksi secara massal dan dipatenkan.

Sementara guru pendamping, Endang Setiowati Masulah mengatakan, untuk mematenkan hasil karya tersebut, pihak sekolah sudah menggandeng Universitas Brawijaya (UB) Malang dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya untuk menguji kandungan saponin dan teknik penyabunannya.

"Sebelum diuji oleh UB dan Unair, Frigent sudah diuji untuk membersihkan sejumlah noda yang menempel di baju. Adapun kotoran yang diaplikasikan adalah saos, kecap dan lumpur dan ke depan kita uji lebih detail lagi," tuturnya.

Atas hasil karyanya itu, ke dua siswi ini mendapat penghargaan Honourable Mention di ajang Indonesia Science Project Olympiade (ISPO) beberapa waktu yang lalu.

Ajang ISPO adalah ajang olimpiade ilmu pengetahuan untuk pelajar. Selain 2 siswi SMAN 1 Kedungpring ini, sejumlah pelajar Lamongan juga meraih medali dalam ajang yang sama. Bahkan, ada diantaranya yang dikirim ke Brazil dan rumania untuk mewakili Indonesia. (fat/fat)
Berita Terkait