"Kami bisa melayani menerima sampah dari masyarakat. Sampah-sampah yang terkumpulkan juga bisa digunakan membayar tagihan listrik," ujar Ketua Yayasan Pengelola Bank Sampah Induk Surabaya, Badar Joang Harista Rosidi, di sela peresmian Bank Induk Sampah Surabaya binaan PT PLN, di Jalan Ngagel Timur, Selasa (7/3/2017).
Bank Induk Sampah Surabaya Foto: Rois Jajeli |
Sebelum membayar listrik dengan sampah, masyarakat terlebih dulu menjadi 'nasabah' Bank Induk Sampah. Sampah yang disetorkan ke bank sampah, akan ditakar nilainya. Masyarakat bisa langsung mengambil uang tunai dari hasil penyetoran sampah atau uang hasil 'penjualan' sampah ditabungkan ke bank sampah.
Jika menabung di bank sampah, prosesnya hampir sama dengan perbankan. Uang dari hasil sampah, ditabung di bank sampah. Masyarakat juga bisa membayar tagihan listrik, bila saldo buku tabungan bank sampahnya mencukupi. Jika tidak cukup, maka tinggal menambah uang tunai.
Sebelum membayar tagihan listrik ke bank sampah, terlebih dahulu mengisi buku PPOB (payment point online bank).
Bank Induk Sampah Surabaya Foto: Rois Jajeli |
"Kami punya daftar harga barang sampah," terangnya sambil menambahkan, jenis sampah yang bisa 'ditabungkan' seperti tembaga, kuningan, aluminium, besi, kertas, botol, plastik lembaran, plastik, dan lain-lain.
Sampah-sampah yang disetorkan dari masyarakat, akan dipilah-pilah sesuai jenisnya masing-masing. Sampah-sampah tersebut juga bisa memiliki nilai tambah dengan cara didaur ulang menjadi seperti topi, tas dan kerajinan tangan lainnya. Selain itu, sampah-sampah tersebut juga bisa dijual ke industri plastik, ke industri tekstil, industri kertas.
"Kami mengajak masyarakat untuk mengubah sampah menjadi bernilai guna," terangnya.
Bank Induk Sampah Surabaya di Ngagel Timur ini memiliki tempat sekitar 400 meter persegi. Bangunan tersebut adalah aset dari PT PLN Distribusi Jawa Timur yang dipinjamkan ke Bank Sampah Induk.
Bank Induk Sampah Surabaya Foto: Rois Jajeli |
General Manager PT PLN Distribusi Jawa Timur Dwi Kusnanto menerangkan, di Indonesia ada 18 bank sampah induk yang 5 diantaranya binaan PLN.
"Ini sangat bagus sekali. Kita akan kembangkan terus sebagai salah satu bentuk banyak hal kepedulian seperti lingkungan, pemberdayaan masyarakat, mengatasi permasalahan sosial. Yang sebelumnya sampah menjadi masalah, sekarang sampah menjadi berkah," ujar Dwi Kusnanto.
Kehadiran bank sampah ini juga bisa menjadikan edukasi bagi rumah tangga. Edukasi kepada ibu-ibu, sehingga sampah rumah tangga bisa dipilah. Katanya, ketika ibunya sudah memilah-milah sampah, tentunya anak-anaknya akan melihat yang sama.
"Kita harapkan gerakan ini semakin masiv. Karena kita tahu bersama, kalau sampah rumah tangga dibuang begitu saja, berapa luas TPA (Tempat pembuangan akhir) yang harus disediakan oleh pemerintah," jelasnya.
Sementara Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (Bahan beracun berbahaya) Kementerian Lingkungan Hidup Tuti Hendrawati Mintarsih mengapresiasi kehadiran bank sampah, karena dinilai dapat membantu menjaga lingkungan dari penumpukan sampah yang tidak berguna.
"Sampah plastik kan tidak mudah terurai. Kalau memang dikumpulkan kemudian diolah, nilai ekonomisnya lumayan," ujar Tuti.
Ia menerangkan, ada 4.280 bank sampah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Namun, bank sampah induk masih belum banyak, karena melihat jumlah sampah yang dikumpulkan.
"Kami memberikan nilai tambah buat wali kota atau bupati, dan rakyatnya rajin memilah dan mengolah sampah itu nilainya juga bertambah tinggi. Dan kita nilai bank sampahnya aktif atau tidak. Nasabahnya banyak atau tidak," jelasnya. (roi/fat)












































Bank Induk Sampah Surabaya Foto: Rois Jajeli
Bank Induk Sampah Surabaya Foto: Rois Jajeli
Bank Induk Sampah Surabaya Foto: Rois Jajeli