Lestarikan Budaya, Pemprov Jatim Geber Wayangan

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Sabtu, 04 Mar 2017 18:55 WIB
Ilustrasi pentas wayang kulit (Foto: Jordy Ramadhan)
Surabaya - Selama setahun, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan pentas wayang kulit sebanyak 20 kali. Ini adalah cara Pemprov Jatim melestarikan
budaya nasional.

Selain itu, wayang adalah salah satu budaya asli Indonesia yang menjadi tontonan sekaligus tuntunan. Karena dalam setiap pagelarannya, cerita wayang kulit senantiasa mengajarkan nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi kehidupan.

"Kami menganggarkan pentas wayangan 20 kali dalam setahun. Ini adalah komitmen kami untuk melestarikan wayang kulit sebagai warisan dari budaya Indonesia, yang juga telah menjadi warisan budaya dunia" ujar Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf atau Gus Ipul saat Pagelaran Wayang Kulit Semalam Suntuk dalam rangka Memperingati HUT ke-39 Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) Jawa Timur di Kantor TVRI Jatim di Jalan Mayjend Sungkono Surabaya, Jumat (3/3) dini hari.

Gus Ipul mempunyai alasan menggelar 20 kali pentas wayang dalam setahun. Selain warisan sejarah, keberadaan wayang dapat dijadikan alat untuk memperkuat kerukunan masyarakat.

"Tak hanya orang yang tua saja yang menonton wayang kulit, tapi ada juga anak-anak, remaja. Semua duduk bersama menonton wayang yang selain menghibur, juga dapat memberikan nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi kehidupan. Inilah yang memperkokoh kerukunan kita," katanya.

Kecintaan terhadap wayang kulit, kata Gus Ipul, mutlak harus terus dipupuk dan dilestarikan. Dengan mencintai wayang, artinya juga melestarikan budaya asli bangsa ini yang bisa menjadi contoh kepada anak cucu.

"Budaya wayang tidak tergantikan. Harus kita pertahankan kepada generasi penerus, kisah dalam wayang menunjukkan bahwa nenek moyang bangsa ini punya tuntunan, tatanan, dan nilai-nilai lurur kehidupan yang mulia," katanya.

Gus Ipul menambahkan, sudah seharusnya masyarakat lebih mencintai budaya wayang daripada budaya-budaya asing yang menyerbu bangsa Indonesia. Bahan orang luar negeri bisa begitu kagum dan bangga dengan budaya wayang.

"Jangan sampai malah kita sendiri yang jadi lebih kagum dengan budaya luar yang lebih modern. Kita punya wayang sebagai kekuatan bangsa, dan kita harus bangga akan wayang kulit," pungkasnya. (iwd/ugik)