Berdasarkan angka kuman atau Total Plate Count (TPC), kualitas susu di Jawa Timur, adalah terbaik nasional. Dimana sebanyak 85 persen produksi susu di Jatim berada pada Grade I (<1 jt/ml).
"Pencapaian ini salah satunya berkat adanya kerjasama dengan koperasi, seperti Koperasi SAE ini. Keberadaan koperasi mampu meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan peternak, terlebih saat ini Jatim menjadi basis susu nasional," kata Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf saat membuka Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi SAE (Sinau Andhandani Ekonomi) Pujon Tahun Buku 2016 Tahun Kerja 2017 di Koperasi SAE Pujon, Kamis (2/3/2017).
Gus Ipul tak lupa mengapresiasi semangat peternak, hingga mampu membawa target susu di Jawa Timur memenuhi kebutuhan nasional.
"Selain kualitas terbaik di tingkat nasional, susu perah Jatim juga mampu berkontribusi terhadap nasional sebesar 52 persen dengan jumlah produksi 1.200 ton/hari. Untuk produksi susu di Jatim sendiri pada tahun 2016 berjumlah 481.399 ton, meningkat dari Tahun 2015 yang berjumlah 472.212 ton," ungkap Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim ini.
Meski telah memenuhi target, lanjut Gus Ipul, tidak menutup adanya beberapa persoalan yang dihadapi peternak.
Diantaranya soal pakan ternak dan pembibitan. Menurut Gus Ipul, solusinya adalah dengan pelatihan peternak dan petugas, peningkatan kualitas pakan dengan bantuan mini feedmill, dan pengendalian pemotongan betina produktif.
"Serta pengendalian penyakit hewan strategis (brucellosis/kluron) dan pengembangan wilayah sumber bibit ternak dengan pengembangan integrasi sapi-tanaman," jelas Gus Ipul.
"Semua upaya ini dilakukan agar peternak mampu bertahan di tengah persaingan yang semakin meningkat ini," tegasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur ujar Gus Ipul, melalui Dinas Peternakan telah melakukan upaya peningkatan nilai tambah diantaranya dengan peningkatan produktifitas dengan skala pemilik 6 ekor, peningkatan kualitas produk dengan Total Plate Count (TPC) kurang dari satu juta, dan melalui pengolahan produk derivate atau pabrikan.
Serta, memperluas pasar dan produk sekunder atau tersier, dan meningkatkan hasil produk-produk inovatif serta kreatif seperti susu bubuk, UHT, keju dan yogurt.
Sementara, dalam meningkatkan jumlah sapi perah, lanjut Gus Ipul, sudah dilakukan skema kredit permodalan bersubsidi, diantaranya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), dengan bunga 9 persen per tahun, kredit pertanian Bank UMKM dengan bunga 6 persen per tahun, serta kredit pangan BRI dengan suku bunga efektif.
Selain bantuan permodalan, kata dia, terdapat juga asuransi ternak sapi dengan premi asuransi sapi sebesar 200 ribu rupiah per ekor per tahun.
Asuransi ini dilakukan PT Jasindo dengan memperoleh subsidi dari pemerintah sebanyak 80 persen atau sebesar Rp 160 ribu per ekor per tahun.
"Bagaimana mereka dapat bibit yang baik dan pembiyaan yang murah. Ini semua bisa difasilitasi oleh koperasi. Yang tak kalah penting adalah menjalin kemitraan dengan perusahaan seperti Nestle. Saya usul koperasi kalau bisa membeli saham perusahaan seperti Nestle, jadi keuntungan bisa untuk para peternak juga," urainya.
Gus Ipul turut melaporkan, jumlah sapi perah di Jatim pada Tahun 2016 berjumlah 265.152 ekor, dengan komposisi 95 persen untuk peternakan rakyat dan lima persen untuk perusahaan.
Setiap Kepala Keluarga (KK) rata-rata memiliki 2 sampai 4 ekor sapi. Sedangkan KUD persusuan berjumlah 65 unit. Di tahun 2016, populasi ternak di Kabupaten Malang berjumlah 80.889 ekor dengan produksi susu sapi perah sebesar 131.088 ton. Produksi susu sapi perah di Kab. Malang ini sebanyak 26 persen-nya berasal dari Kecamatan Pujon atau sekitar 33.945 ton.
Keberadaan Koperasi SAE Pujon, lanjut Gus Ipul, berperan penting dalam mendukung dan membantu para peternak sapi untuk meningkatkan produksi susu. Beberapa program Koperasi SAE diantaranya dengan mendirikan feed center pakan, mendirikan kandang percontohan skala kecil serta mendirikan rearing farm.
"Koperasi harus solid, maju dan dikelola dengan modern. Koperasi ini (SAE) termasuk yang terbaik di Jatim," sebutnya.
Sementara, Ketua Umum Koperasi SAE Pujon Abdi Suwasono mengatakan, RAT ini sangat penting untuk evaluasi program dan kinerja koperasi untuk mencapai kemajuan.
Untuk itu, peran serta anggota sangat dibutuhkan dalam memberi masukan demi kemajuan koperasi. Kepercayaan dan komitmen anggota menjadi faktor berkembangnya koperasi ini. "Mari kita tingkatkan kerjasama dan gotong royong menghadapi tantangan ke depan," ujarnya terpisah. (bdh/bdh)











































