"Saat nanti saya tidak ada atau sudah tidak menjadi wali kota, akan terasa sekali manfaatnya untuk Surabaya, bahkan untuk dunia. Karena mangrove ini tempat berpijaknya ikan bukan hanya dari sisi keamanan dari tsunami atau dari rob. Karena itu, kalau mangrove nggak ada, mungkin ikan akan sulit berkembang. Bahkan habitat lainnya," kata Risma di Balai Kota Surabaya, Kamis (2/3/2016).
Ia mencontohkan habitat monyet di eco wisata mangrove di Wonorejo, Rungkut. Risma menjamin monyet di mangrove masih asli, terlihat dari tingkah lakunya.
"Monyet di sini masih asli, kalau pundak kirinya gatal, maka monyet akan menggaruk dengan tangan kiri bukan dengan tangan kanan. Dibandingkan dengan monyet di Kebun Binatang yang sudah bertemu banyak manusia," imbuhnya.
Risma juga mengungkapkan beberapa habitat asli mangrove juga mulai bermunculan. Salah satunya, kucing mangrove yang tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari kucing kampung.
"Dia (kucing mangrove) itu sudah mulai ada di sini dan biasanya keluarnya pagi hari, artinya habitat ini merasa nyaman dengan lingkungan asli," ujar Risma.
Mantan Kepala Bappeko dan DKP Surabaya ini akan terus berupaya menjaga lingkungan yang dianggapnya bukan hal yang rumit. Menurtunya yang sulit adalah menjaga konsistensi. "Saya kira ini ilmu yang sederhana yang butuh konsistensi. Konsistensi ini yang paling susah," pungkas Risma. (ze/fat)











































