Tidak Ada Angin dan Hujan, Rumah Kakek Sebatang Kara Ambruk

Tidak Ada Angin dan Hujan, Rumah Kakek Sebatang Kara Ambruk

Adhar Muttaqin - detikNews
Sabtu, 25 Feb 2017 14:33 WIB
Tidak Ada Angin dan Hujan, Rumah Kakek Sebatang Kara Ambruk
Foto: Adhar Muttaqin
Trenggalek - Rumah milik Bari, kakek 90 tahun warga Desa Ngares, Kecamatan/Kabupaten Trenggalek ambruk dan rata dengan tanah. Pemerintah daerah bersama relawan dan warga bergotong-royong melakukan proses pembersihan material bangunan dan dilakukan pembangunan ulang.

Sejak pagi, tim gabungan dari TNI, polisi, Tagana, Orari, dinas sosial dan warga membongkar seluruh material bangunan yang roboh Jumat, (24/2/2017) kemarin. Proses pembersihan sisa bangunan dilakukan selama dua jam, mulai pukul 06.30 WIB hingga 08.30 WIB. Selanjutnya langsung dilakukan pembangunan ulang.

"Hari ini suluruh tim bersama-sama untuk membantu mbah Bari. Kami berharap pembangunan ulang bisa segra terwujud, sehingga yang bersangkutan bisa menghuni rumahnya kembali," kata Wakil Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin, Sabtu (25/2/2017) saat meninjau lokasi kejadian.

Menurutnya, untuk membantu korban bencana tersebut, pihaknya mengoptimalkan seluruh komponen yang ada, mulai swasta hingga organ pemerintah. Rencananya pemerintah juga akan mempercepat pemberian bantuan lain, agar korban Bari bisa kembali hidup dengan normal dan nyaman.

Tidak Ada Angin dan HUjan, Rumah Kakek Sebatang Kara AmbrukFoto: Adhar Muttaqin
"Kami sudah pesan ke camat untuk mengawal ini, sehingga apabila ada kendala saat pembangunan termasuk material bisa segera teratasi," ujarnya kepada detikcom.

Sementara itu pemilik rumah, Bari mengatakan, peristiwa ambruknya rumahnya tersebut terjadi pada Jumat siang. Saat itu ia hendak menjalankan salat dhuhur di dalam rumah. Pada saat yang bersamaam tiba-tiba terdengar suara gemertak pada kayu-kayu yang ada di dalam rumahnya.

"Awalnya itu saya kira gempa bumi, tapi kok sepertinya rumah mau roboh, Kemudian saya jongkok dan masuk ke kolong meja, benar saja setelah itu terdenger gemuruh dan bruk," katanya.

Saat itu sejumlah tetangga korban yang mengetahui kejadian langsung berteriak histeris dan berusaha mencari keberadaan Bari. Beberapa warga sempat mengira jika korban telah tewas, karena seluruh bangunan ambruk.

"Warga ramai memanggil saya dari luar, kemudian saya jawab 'aku di sini'. Alhamdulillah saya masih selamat dan tidak mengalami luka," ujarnya.

Menurut sejumlah warga, setelah ditinggal mati oleh istrinya, Bari hidup sebatang sendiri. Sehari-hari ia menjalankan aktivitas sebagai tukang pijat keliling. Sedangkan anak angkatnya tinggal di rumahnya sendiri yang ada di luar desa.

Sebelum roboh, rumah Bari sempat beberapa kali dilakukan pembenahan, termasuk mendapat bantuan bedah rumah dari salah satu organisasi kemasyarakatan. Namun kurang perawatan, beberapa konstruksi rumah telah rusak dan dalam kondisi miring, hingga akhirnya roboh. (bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini