Sementara sekitar empat hektar padi siap panen tertutup banjir lumpur, pasca jebolnya tanggul Sungai Klianjuk desa setempat beberapa waktu lalu.
Salah satu petani di Desa Patean, Ahmad Zaini (45) mengaku terpaksa memanen padi meski belum waktunya panen. Dia beralasan karena takut terjadi banjir lagi, sehingga padinya yang sudah berumur sekitar 75 hari dan mulai menguning terpaksa dipanen lebih awal.
"Biasanya waktu panen itu umur 90 hari," kata Ahmad Zaini kepada detikcom di lokasi, Sabtu (17/2/2017).
Apalagi, jelas dia, puluhan hektar lahan persawahan di Desa Patean tahun ini sering terendam banjir sejak jebolnya Tanggul Kalianjuk. Tanggul Kalianjuk merupakan pembuangan utama air dari beberapa wilayah seperti kecamatan kota, batuan dan Kecamatan Lenteng.
Petani membersihkan gabah bercampur lumpur Foto: Ahmad Rahman |
"Dulu waktu pertama jebol sudah dibuatkan tanggul darurat oleh BPBD, tapi tidak kuat sehingga jebol lagi," tambah Ahmad Zaini.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep sebenarnya sudah membuat tanggul darurat untuk mencegah banjir susulan. namun tanggul darurat jebol lagi karena tak mampu menahan derasnya banjir beberapa waktu lalu.
Sejumlah petani mengaku merugi puluhan juta karena biasanya dalam satu hektar, mereka mampu menghasilkan sekitar 140 karung gabah. Tapi pada musim panen kali ini, hanya memperoleh sekitar 40 karung gabah. Diperkirakan hasil panen kali ini tidak cukup untuk menutupi biaya modal ongkos bertani mulai masa tanam sampai musim panen.
"Pasti rugi sekarang, soalnya satu hektar kalau dulu biasanya dapat 140 karung, sekarang cuma dapat 40 karung," jelasnya.
Kini, petani yang sawahnya menjadi langganan banjir akibat jebolnya Tanggul Kalianjuk berharap ada suntikan bantuan bibit dari pemerintah untuk masa tanam kedua nanti. (fat/fat)












































Petani membersihkan gabah bercampur lumpur Foto: Ahmad Rahman