Di Jember sendiri, ada dua Batalyon di bawah Kostrad yaitu Yonif Raider 509/Balawara Yudha dan Yonif Raider 515/Ugra Tapa Yudha.
"Di Jember tidak memadai. Di Banyuwangi rencananya nanti di Pakistaji, Kabat ada lahan milik TNI. Lumayan luas sekitar 40 hektar. Tapi idealnya harusnya 60 hektar," ujar Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI I Made Sukadana saat berkunjung ke Banyuwangi, Kamis (16/2/2017).
Beberapa waktu lalu, kata pangdam, dirinya mengutus perwakilan dari Kodam V Brawijaya dan Brigif 9 Kostrad untuk meninjau lokasi tanah milik TNI di daerah Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat.
"Pemindahan seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya, ini disesuaikan dengan kebutuhan sebuah wilayah terkait pengamanan. Kita tunggu persetujuan dari Mabes TNI," tambahnya.
Dia menjelaskan, ada beberapa keuntungan jika Banyuwangi memiliki Batalyon. Antara lain faktor keamanan wilayah Banyuwangi yang luas dan faktor ekonomi. Banyuwangi sebagai batas timur Pulau Jawa menjadi pintu masuk bagi sebagian besar orang yang akan menuju pulau Jawa. Belum lagi kedekatan dengan Pulau Bali yang bukan rahasia umum lagi adalah lokasi yang mudah dimasuki warga asing hingga mata-mata.
"Wilayahnya cukup luas, apalagi kalau ada pengamanan event internasional di Bali dan even kenegaraan di Banyuwangi. Biasanya harus menunggu pasukan dari Jember atau Malang. Padahal jaraknya cukup jauh. Untuk faktor ekonomi pasti bisa mengatakan ekonomi. Ada 1.000 personel nanti ada di sini," tambahnya.
Dalam lawatannya ke Banyuwangi, Pangdam V Brawijaya mengunjungi Pendopo Saba Swagatha Blambangan dan Sanggar Genjah Arum Kemiren. Kunjungan pertama dilakukan di Kodim 0825 Banyuwangi dan disambut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Forum Pimpinan Daerah (Forpimda). (fat/fat)










































