Menanggapi aksi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Saiful Rachman mengimbau kepada pelajar SMA untuk tidak melakukan demo berkaitan dengan SPP sekolah.
"Semuanya urusan pendidikan sudah tuntas. Regulasinya juga sudah tuntas. Jadi kalau mereka itu (mau demo), berati mereka nggak paham (aturan)," kata Saiful Rachman kepada wartawan di sela acara pertemuan kepala sekolah se Jatim dan Gubernur dalam rangka 'Peningkatan kualitas pendidikan SMA/SMK se Jawa Timur' di Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Jumat (10/2/107).
Untuk itu, Saiful minta kepala sekolah tetap memberikan proses belajar mengajar di sekolahan. Jika ada siswa yang melakukan demo di waktu jam belajar, maka ada sanksinya.
"Kalau ada pelajar keluar pada jam sekolah, itu akan tercatat semua. Konsekuensinya ya disiplin. (bagi pelajar demo) otomatis dia disanksi, karena tidak melaksanakan pelajaran," jelasnya.
"Misalnya ada siswa SMA 5 keluar tanpa izin sekolah. Dan izinnya apa harus dijelaskan. Karena proses jam belajar itu tanggungjawab kepala sekolah dan guru. Kalau keluar berarti sekolah tanggungjawab. Kan jam sekolah kita sampai jam 3 sore," tuturnya.
Mantan Kepala Badan Pendidikan dan Latihan (Badiklat) Provinsi Jawa Timur ini menerangkan, jika ada demo ada wadahnya. Seperti mahasiswa melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Jika pelajar ada organisasi OSIS.
"Kalau pribadi, istilahnya ini sudah liar. Saya kira ajakan ini tidak mendidik, dan istilahnya tidak proporsional. Untuk apa siswa diajak seperti itu. Kalau pun demo kan ada wadahnya," tandasnya sambil menambahkan, dirinya tidak akan menemui pendemo dari mahasiswa.
"Saya tidak menemui. Selama dia hanya proses orasi, silahkan dan itu tidak ada tuntutan ke kita. Kalau mau dialog untuk apa, kan semuanya sudah selesai," tandasnya.
Disinggung mengenai pertemuan antara kepala sekolah SMK/SMA se Jatim dengan gubernur di Grahadi, kata Saiful hanya pemberian gambaran dari gubernur tentang kondisi sekolah masa depan.
"Pak Gubernur memberikan gambaran bahwa mindset-nya harus begini. Kita sudah sepakat bahwa persaingan global dan kepala sekolah harus menuju ke sana, dalam arti menyiapkan anak didiknya," terangnya. (roi/bdh)











































