"Kami mencatat ada 1.100 ODHA di Kabupaten Pasuruan. Kondisi ini sangat memprihatinkan, seperti fenomena gunung es. Selama ini ODHA sangat tertutup karena malu dan takut dikucilkan. Padahal harapan hidup mereka lebih lama jika mau berobat." kata Direktur RSUD Bangil, Lumbini Pejati Layung, Senin (6/2/2017).
Mantan Kepala Dinas Kesehatan ini mengungkapkan penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pasuruan menduduki peringkat ketiga se-Jawa Timur. Penderitanya mulai bayi sampai usia tua dari kelompok Wanita Penjaja Seks (WPS), pelanggan WPS, pasangan pelanggan WPS, pengguna narkotika dan jarum suntik dan lain-lain.
"Sejak dirintis beberapa tahun lalu, semakin banyak pasien HIV/AIDS yang berani berkonsultasi lewat layanan pesan singkat. Mereka juga bisa mendapatkan obat ARV secara gratis seumur hidup karena RSUD Bangil sudah memiliki izin dari Kemenkes. Para pasien juga mendapatkan pelatihan, ketrampilan dan promosi ke paguyuban ODHA," terangnya.
Lumbini mengatakan ODHA Link memiliki 3 strategi, pertama Online SMS 24 Jam, di mana masyarakat umum terutama penderita ODHA Link mampu bisa langsung bertanya langsung tentang penyakitnya tanpa diketahui siapapun identitasnya.
Petugas akan menjamin kerahasiaan penderita. Strategi yang kedua yakni Delivery Order, yakni layanan bagi penderita HIV/AIDS mendapatkan obat ARV dari orang yang terpercaya dan mengurangi beban transportasi pasien. Yang ketiga high access, yakni pembentukan jejaring, edukasi, penyuluhan, pelatihan, ketrampilan dan promosi pada paguyuban ODHA juga kelompok kunci.
"Kami berharap semakin banyak pasien ODHA yang memanfaatkan layanan ini," tandasnya.
Bupati HM Irsyad Yusuf mengatakan ODHA Link merupakan bagian dari peningkatan pelayanan publik di bidang kesehatan. Ia akan terus mendukung pengembangan ODHA Link agar semakin banyak pasien yang terjankau.
"ODHA Link yang selama ini di RSUD Bangil akan direplikasi dengan membentuk puskesmas satelit, diantaranya di Puskesmas Grati, Puskesmas Gempol, Puskesmas Prigen dan Puskesmas Purwosari," katanya.
Pasien HIV/AIDS semakin mudah mengakses layanan ODHA Link dan sedikit demi sedikit menghapus stigma negatif terhadap ODHA.
"Harapannya, penderita ODHA semakin terbuka dan tak malu melakukan konsultasi dan mendapatkan pelayanan pengobatan sehingga kehidupan mereka bisa lebih bermanfaat," ungkapnya. (fat/fat)










































