Memakai baju khas warna merah, ratusan warga keturunan dari berbagai wilayah berkumpul di sini. Lampion-lampion yang menjadi ciri khas perayaan Imlek semakin menambah semarak suasana di sepanjang jalan Diponegoro ini.
Toleransi keberagaman itu pun kental terasa dalam perayaan malam itu. Selain menampilkan kesenian barongsai dan lianglion, juga ditampilkan khas suku Using. Mulai dari musik pengiring angklung, tari pitik-pitikan, hingga barong Banyuwangi.
"Malam ini cukup meriah. Tak hanya kesenian etnis Tionghoa yang ditampilkan, namun kesenian lokal juga disuguhkan. Ini benar-benar wujud dari kebhinekaan di Banyuwangi, "ujar Anas saat memberikan sambutan di Malam Budaya Tionghoa.
Dikatakan Anas, meski di Banyuwangi banyak etnis, budaya dan agama, namun tidak pernah ada polemik. "Banyuwangi adalah daerah aman dan damai sehingga tidak pernah ada konflik antar umat beragama. Kondisi ini berkat kerjasama seluruh elemen masyarakat dibawah forum kerukunan antar umat beragama," ujarnya.
Tak kalah penting, Anas menegaskan bahwa perayaan ini mengingatkan akan sosok Gus Dur yang merupakan tokoh Indonesia yang membuka ruang yang luas bagi warga Tionghoa di negara ini.
"Budaya Tionghoa pada masa beliau menjabat Presiden diberi ruang yang luas. Beliau adalah tokoh sekaligus ulama yang menjunjung tinggi toleransi. Karena itu peringatan semacam ini, kita harus berterima kasih kepada Almarhum," kata Anas.
Bupati Anas juga mengatakan, perayaan Imlek ini juga sebagai penguatan bersama warga Tionghoa dalam membangun Banyuwangi. Pihaknya minta warga Tionghoa juga turut membantu menyelesaikan permasalahan kemasyarakatan. Seperti problem siswa putus sekolah, warga miskin yang tidak punya rumah dan membantu anak yatim.
"Di Banyuwangi jumlah anak yang putus sekolah tercatat ada lima ribu lebih anak. Sekarang tersisa tinggal 93 anak yang belum teratasi. Capaian ini akan lebih hebat lagi jika warga Tionghoa ikut keroyokan terlibat bersama pemerintah," ujar Bupati Anas.
Sementara Ketua Paguyuban warga Tionghoa Banyuwangi, Pek Ing Gwan yang biasa disapa Indrawan mengaku sangat senang atas perayaan yang digagas pemkab ini.
"Tampilnya tari-tarian sebagai bentuk toleransi. Di setiap even hari besar, kami pun selalu melengkapi suguhan dengan mengangkat budaya lokal untuk tampil bersama. Semoga acara ini terus berlangsung, dan toleransi di sini bisa selalu terjaga," kata Indrawan. (fat/fat)











































