"Hari ini kami membersihkan semua rupang yang ada di sini," ujar Ketua Bidang Spiritual TITD Hong San Ko Tee Suhu Gunawan kepada wartawan, Sabtu (21/1/2017).
TITD yang terkenal dengan sebutan Kelenteng Cokro ini tak hanya menyucikan rupang milik kelenteng saja, tetapi juga rupang milik umat. Umat menitipkan rupang yang ada di rumahnya untuk turut dibersihkan.
"Ada sekitar 100 rupang yang kami sucikan," lanjut Gunawan.
Sebelum dibersihkan, umat menggelar sembahyang untuk mengantar para dewa ke nirwana. Karena itu umat berani menyentuh rupang untuk dibersihkan karena dianggap sedang 'kosong'.
Patung dewa dibersihkan menggunakan air rendaman bunga mawar Foto: Imam Wahyudiyanta |
Penyucian rupang awalnya dilakukan menggunakan air sabun. Semua kotoran dan debu yang menempel di rupang dibersihkan. Semua sudut tak luput dari gosokan kuas dan kain. Untuk bilasan terakhir, digunakanlah air yang di dalamnya sudah terendam bunga mawar.
"Ini adalah penyucian sekaligus penyegaran rupang. Ini adalah ritual rutin tiap tahun jelang imlek," kata Gunawan.
Selain membersihkan rupang, seluruh kelenteng juga dibersihkan. Kotoran dan debu di sudut tempat peribadatan dibersihkan. Tembok yang terlihat kusam dicat ulang sehingga terlihat cerah kembali.
Gunawan menambahkan bahwa belum ada kegiatan lain hingga hari H imlek tiba. Pada hari H itu, akan diadakan sembahyang untuk mensyukuri pergantian tahun dalam kalender Cina.
"Ribuan umat akan datang bergantian ke sini nanti pas imlek tiba," tandas Gunawan. (iwd/gik)












































Patung dewa dibersihkan menggunakan air rendaman bunga mawar Foto: Imam Wahyudiyanta