Tertarik Posyandu, Puluhan Mahasiswa AS Belajar ke Banyuwangi

Tertarik Posyandu, Puluhan Mahasiswa AS Belajar ke Banyuwangi

Putri Akmal - detikNews
Rabu, 11 Jan 2017 13:23 WIB
Tertarik Posyandu, Puluhan Mahasiswa AS Belajar ke Banyuwangi
Mahasiswa AS Belajar ke Banyuwangi/Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Selain dikenal dengan wisata alam dan kuliner yang khas, pelayanan publik Banyuwangi kini juga mulai menjadi jujugan. Seperti 38 mahasiswa asal Amerika Serikat yang melakukan studi komparasi internasional untuk melihat dari dekat pelayanan kesehatan di Banyuwangi.

Selama 2 hari, puluhan mahasiswa dari Universitas Rhode Island AS yang tergabung dalam program Global Health Study Program mengunjungi beberapa fasilitas kesehatan berbasis masyarakat. Seperti pos pelayanan terpadu (Posyandu) dan Puskesmas.

Studi yang digelar Indonesia Education Partnership berasal dari 4 fakultas, yakni Fakultas Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Farmasi dan Ilmu Politik.

Founder and Managing Director Indonesia Education Partnership, Brook Williams Ross mengatakan global health trip ini dilakukan untuk mengetahui pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah yang dikunjungi. Terutama, lanjut dia, bagaimana penyedia layanan kesehatan yang dilakukan pemerintah bisa bekerja bersama dengan masyarakat sekitar.

"Lewat program ini kami belajar tentang pelayanan kesehatan yang telah dilakukan oleh negara-negara di dunia, dampak yang dirasakan oleh masyarakat, dan bagaimana warga dan fasilitas pelayanan kesehatan bersama-sama meningkatkan derajat kesehatan," jelas Brook saat mengunjungi lokasi posyandu yang digelar di balai pertemuan warga Kelurahan Taman Baru, Banyuwangi, Rabu (11/1/2017).

Menurut Brook, Banyuwangi dipilih sebagai jujugan belajar lantaran Banyuwangi punya komitmen kuat untuk mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Semisal, posyandu yang merupakan salah satu program tiap puskesmas di Banyuwangi berhasil mengajak warga untuk bersama mewujudkan kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak.

Sistem posyandu yang terpadu dan mudah di akses warga di lingkungan, menurut Brook merupakan suatu tahap pelayanan kesehatan yang perlu dicontoh lantaran di negaranya hal itu tidak diterapkan.

"Kami sangat tertarik dengan posyandu, bagaimana masyarakat bisa saling kerja bersama, Mulai dari petugas kesehatan puskesmas, bidan yang suport kesehatan ibu dan bayi untuk mencegah kematian pd ibu dan anak, dan masyarakat yang aktif terlibat di dalamnya. Mulai dari menyediakan tempat serta ibu dan anak yang aktif hadir di sana. Karena itu kami belajar apa yang di negara kami tidak diterapkan," kata Brook.

Para mahasiswa yang belajar terlihat dengan serius ikut melayani program posyandu. Mereka tampak menyimak dengan baik saat diberi penjelasan prosedur pelayanan posyandu oleh bidan yang bertugas. Para mahasiswa juga ikut aktif saat menimbang balita, memeriksa kesehatan dan memberi makanan sehat. Tak sungkan para mahasiswa ini juga mengajak para balita bermain sambil menunggu antrian periksa.

"Di tempat kami tidak ada posyandu. Ibu dan balita langsung pergi ke klinik, pusat-pusat kesehatan atau rumah sakit untuk mendapatkan imunisasi. Berbeda dengan di sini, imunisasi bisa diakses di posyandu yang banyak dilaksanakan di lingkungan warga. Dengan jadwal yang sudah ditentukan," tambah dia.

Hal yang sama juga diungkapkan salah satu peserta program, Shannon Mac Ayeal. Menurut gadis berambut pirang itu, warga AS yang membutuhkan layanan kesehatan ibu dan anak harus datang ke dokter atau pusat-pusat kesehatan. Tak seperti di Indonesia, Banyuwangi sangat terstruktur dan rapi.

"Di negara kami tidak ada seperti ini (posyandu). Sementara disini sangat terstruktur dan rapi. Awesome. Honestly, it's really amazing," puji Shannon yang merupakan mahasiswa Fakultas Keperawatan Rhode Island University ini. (fat/fat)
Berita Terkait