Kepala Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi, Guntur Priambodo ketika tinjau lokasi menjabarkan, mega proyek yang dibangun sejak 2006 silam ini terpantau zero infiltrasi atau tidak ada kebocoran. Setelah mengalami kendala kekeringan akibat terjangan badai el nino di tahun 2016 lalu, kini volume air penuh melimpah dan berada di posisi ambang batas sejak Selasa (3/1) kemarin.
"Jika dilihat dari pantauan, ini adalah produk waduk yang stabil. Ini (volume air) sudah penuh, dengan melimpahnya posisi air di ambang batas berarti sudah 10 juta kubik. Mulai terpantau penuh sejak kemarin sore sekitar pukul 3. Akhirnya siap dioperasionalkan. Sudah siap jika diresmikan Pak Jokowi," kata Guntur saat ditemui detikcom di Waduk Bajulmati, Kabupaten Banyuwangi, Rabu (4/1/2017).
Pantauan detikcom di lokasi, posisi volume air yang ditampung mulai meluber ke pelimpah air (spillway) waduk. Pepohonan di kawasan waduk yang semula kering kini mulai hijau dan rindang. Populasi jutaan ikan nila yang melimpah di perairan waduk juga mengundang minat warga untuk memancing di sekitar kawasan Waduk Bajulmati.
Bebukitan mungil di areal tampungan air Waduk Bajulmati juga terlihat hijau dan cantik mirip seperti pulau-pulau kecil di Raja Ampat, Papua. Waduk Bajulmati kini juga mulai menjelma menjadi salah satu alternatif wisata jujugan wisatawan.
Waduk Bajulmati ini, imbuh Guntur, memiliki beragam fungsi. Seperti, mampu mengalirkan air baku sebesar 120 liter/detik, pengendali banjir saat musim penghujan, pengembangan pariwisata, perikanan, konservasi air dan sarana edukasi. Waduk ini juga difungsikan sebagai pembangkit minihydro dengan potensi listrik yang bisa dihasilkan mencapai 0,34 Mega Watt.
Sepanjang hari aliran air Waduk Bajulmati bisa dimanfaatkan untuk penyediaan air irigasi dengan kekuatan 180 liter/detik bagi 1.800 hektar sawah. Dalam pemanfaatannya, air tampungan waduk ini akan lebih banyak ke Banyuwangi. Terutama untuk peningkatan intensitas sawah di wilayah Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.
Dengan pemanfaatan distribusi air yang maksimal, musim panen yang biasanya hanya mampu dikerjakan 2 kali bisa di optimalkan hingga 3 kali musim panen.
"Bisa mengairi sepanjang hari 180 liter/detik untuk mengairi 1.800 hektar. Wilayah Situbondo 300 hektar dan 1500 hektar Banyuwangi. Pemanfaatan lebih banyak ke Banyuwangi, seperti pembangkit minihydro, irigasi sawah dan air bersih cetak sawah baru dan peningkatan intensitas sawah di Wongsorejo. Jadi sawah-sawah yang biasanya hanya 2 kali panen bisa dioptimalkan hingga 3 kali musim panen," papar Guntur.
Waduk yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Situbondo ini dibangun dengan pembiayaan konstruksi secara multiyears dan bertahap. Pembiayaan dimulai sejak 2006-2007 sebesar Rp 15 miliar, dilanjutkan anggaran 2008-2009 senilai Rp 90 miliar. Pembangunan dilanjutkan lagi saat anggaran 2012-2014 sebesar Rp 240 miliar dan 2015 Rp 90 miliar dengan jasa konsultasi senilai Rp 15 miliar. Total anggaran yang digerojok untuk Waduk Bajulmati sebesar Rp 450 miliar.
Meski begitu ada beberapa sektor pekerjaan yang masih menjadi pekerjaan rumah lantaran belum terbangun. Seperti, perencanaan cetak sawah baru seluas kurang lebih 600 hektar, saluran sekunder sepanjang 2.000 meter dan distribusi air bersih. Diharapkan, proyek pekerjaan tersebut bisa terlaksana tahun ini, supaya distribusi air bisa optimal.
"Yang belum terlaksana ialah pembangunan saluran sekunder, jaringan transmisi distribusi air bersih dan cetak sawah baru. Saat ini saluran alami sudah ada tapi belum maksimal. Saluran sekunder masih dibutuhkan sekitar 2.000 meter untuk dialirkan ke dam-dam yang ada di wilayah Wongsorejo. Diharapkan tahun ini bisa terealisasi, karena biar maksimal. Sayang kan airnya kalau tidak dioptimalkan karena meluber ke Sungai Bajulmati dan ke laut," tandas Guntur. (fat/fat)