Kisah Relawan di Surabaya Jadi Pendamping Anak Putus Sekolah

Kisah Relawan di Surabaya Jadi Pendamping Anak Putus Sekolah

Zaenal Effendi - detikNews
Rabu, 21 Des 2016 17:13 WIB
Kisah Relawan di Surabaya Jadi Pendamping Anak Putus Sekolah
Relawan mendapat penghargaan/Foto: Zainal Effendi
Surabaya - Jiwa sosial tidak banyak dimilki generasi muda saat ini. Mereka lebih banyak menghabiskan dengan bersenang-senang ketimbang melakukan hal yang berguna. Seperti 285 relawan atau kakak pendamping Campus Social Respobility (CSR).

Para relawan ini tak semua mulus saat mendampingi seorang anak agar masa depannya tetap terjaga dengan terus bersekolah. Selain fisik, materi juga harus dikeluarkan secara pribadi atau meminta bantuan donatur agar program pendampingannya berhasil.

Para relawan ini merupakan mahasiswa tidak hanya dari fakultas psikologi atau ilmu kejiwaan. Seperti Muhammad Firmansyah (21), mahasiswa Fakultas Teknik Sipil Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

Firman mengaku mendampingi empat bersaudara dan terancam putus sekolah. Persoalannya karena ekonomi keluarga yang pas-pasan. "Awalnya saya cuma dapat dua dari dataDinsos. Setelah saya melakukan kunjungan ditemukan, dua lagi yakni kedua adiknya," kata Firman padadetikcom, Selasa (21/12/2016).
Relawan mendapat penghargaanFoto: Zainal Effendi
Relawan mendapat penghargaan


Dalam mendampingi keempat anak itu, Firman mengaku kesulitan dalam masalah finansial untuk memasukkan sekolah. Ia pun berusaha mencari donatur. Firman pun mendapat dua teman yang sudah bekerja sebagai pemilik event organizer dan seorang dokter.

"Ya kedua teman saya itu menjadi donatur tiap kali ada kebutuhan finansial untuk membantu adik-adik saya," kata mahasiswa yang juga bekerja sebagai freelance sales promotion boy untuk membantu biaya kuliah dan pendampingan keempat anak putus sekolah.

Sementara hal berbeda dengan kakak pendamping Ana Novita Qurrata A'yun, yang mendampingi anak dari keluarga eks Gafatar. Ia menceritakan awalnya sangat takut saat pertama kali melakukan kunjungan untuk mengetahui permasalahan yang dialami.

"Tahu sendiri kan mas, kalau mereka tidak mau keluar bersosialisasi dan inginnya melakukan home schooling. Kemudian saya berusaha agar anaknya mau bersekolah di luar dan bisa bersosialisasi dengan anak-anak lain, hasilnya pun bagus," kata Yuyun sapaan akrabnya.

Seperti pendamping lainnya, Yuyun juga berusaha sendiri mengurus sekolah anak dari keluarga Gafatar. Tentu saja mencari rekom ke Dinas Pendidikan.

"Bahkan saat itu H-7 sudah hari pertama sekolah, saya harus wara wiri kesan kemari untuk mengurus berkas sekolah anak yang akan saya dampingi," ujarnya.

Selama ini Yuyun mempunyai strategi agar usahanya berhasil mendampingi anak tersebut. Ia tidak pernah mengaku sebagai kakak pendamping dari program CSR Dinsos.

"Saya baru ketahuan setelah anak itu kemarin naik kelas VI SD, saat orangtuanya mencari tahu informasi tentang program CSR. Saat itu kedua orangtuanya menyesal karena selama ini selalu meminta segala sesuatu untuk diuruskan buat anaknya dan ketika anaknya mau sekolah. Dan saat diperbolehkan sekolah itu sesuatu yang berharga bagi saya," kenang Yuyun. (ze/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini