Wujud Bela Negara dengan Working Ideology dan Produk Berkualitas

Rois Jajeli - detikNews
Senin, 19 Des 2016 13:33 WIB
Foto: Rois Jajeli
Surabaya - Perang saat ini bukan lagi dalam bentuk perang konvensional dari negara asing. Tetapi perang yang dihadapi sekarang ini adalah perang semesta terhadap segala bentuk gangguan masyarakat. Seperti kejahatan narkotika, perang terhadap kebudayaan, ekonomi, perkembangan teknologi informasi hingga kehidupan sosial yang tidak memiliki kesantunan terhadap nilai-nilai lokal.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, masyarakat sekarang ini perlu mewujudkan bela negara dengan ideologi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya (working ideology).

"Bela negara harus mampu menampilkan profil dan wajah baru. Bukan profil bela negara pada zaman merebut kemerdekaan saja, melainkan harus working ideologi yang diterapkan di era globalisasi seperti saat ini," kata Soekarwo saat memberikan arahan di peringatan Hari Bela Negara ke 68 dan Hari Ibu ke 88 di halaman kantor Gubernur Jawa Timur, Jalan Pahlawan, Senin (19/12/2016).

Gubernur Jatim yang akrab disapa Pakde Karwo mengatakan, di era globalisasi saat ini, dibutuhkan rasa nasionalisme dan perjuangan baru yang diwujudkan melalui produk-produk dari Jawa Timur agar bisa bersaing dengan produk-produk dari luar negeri.

"Langkah konkrit seperti itulah sebagai bela negara baru yang dinamkan working ideology," tuturnya.

Soekarwo menegaskan, mewujudkan rasa nasionalisme tidak cukup dengan menggelorakan Aku Cinta Indonesia (ACI). Tetapi, produk dari masyarakat Jawa Timur jangan sampai diserbu oleh produk-produk luar negeri.

"Cara yang tepat dalam bela negara sekarang ini adalah membenahi produk-produk dalam negeri agar dapat bersaing di pasar internasional," terangnya sambil menambahkan, salah satu cara produk dari masyarakat Jatim agar dapat bersaing di pasar internasional yakni, memperbanyak sekolah vokasional dan melakukan pemagangan atau training bekerja di perusahaan yang memiliki kualitas internasional.

"Kondisi ini akan dapat memberikan dampak pada kemampuan siswa yang telah menggabungkan antara disiplin, pengetahuan, kompetensi yang ditunjang dengan pelatihan-pelatihan yang cukup. Generasi muda senantiasa membekali dirinya dengan kemampuan teknologi baru sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat," ujarnya.

Gubernur juga mengingatkan pelaksanaan working ideology bela negara di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS), dengan mewujudkan menjauhi diri dari pungutan liar (pungli). Melaksanakan tugas pelayanan publik yang baik dan prima kepada masyarakat.

"Tertib dan produktifnya PNS nantinya dapat menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat," paparnya.

Acara yang digelar di halaman kantor gubernur, juga memperingati Hari Ibu ke 88. Gubernur menyampaikan pesannya bahwa ibu-ibu memiliki peran penting dalam pembangunan. Memberikan support bagi suaminya dalam bekerja yang tercermin dalam pengarustamaan gender sebagai bentuk kolaborasi mengisi pembangunan.

Contohnya, kata Pakde Karwo, sikap seorang ibu yang memberikan support terhadap suaminya dalam rangka mewujudkan kongkrit bela negara dan pembangunan seperti, ibu yang mampu menahan hedonisme atau prilaku dan gaya hidup yang konsumtif.

"Kalau beli barang itu sesuai keperluan, bukan membeli atas dasar keinginan. Apalagi sikap tersebut dilakukan di kondisi krisis seperti ini," tandasnya. (roi/fat)