DetikNews
Minggu 18 Desember 2016, 11:22 WIB

Bekraf dan Pemkab Banyuwangi Gelar Pendampingan Pengusaha Kopi Lokal

Ardian Fanani - detikNews
Bekraf dan Pemkab Banyuwangi Gelar Pendampingan Pengusaha Kopi Lokal Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Komunitas pengusaha kopi lokal Banyuwangi diajak meningkatkan kreativitas dan akses permodalan. Ini dilakukan untuk melakukan pendampingan pengusaha kopi lokal sebagai tindak lanjut MoU antara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Pemkab Banyuwangi.

Acara yang digelar di Gedung Wanita Paramita Kencana ini, diikuti ratusan pecinta kopi, komunitas barista dan pemilik kafe serta warung kopi di Banyuwangi. Hadir dalam acara tersebut, Wakil Kepala Bekraf Ricky Josep Pesik, Deputi Akses Permodalan Bekraf Fajar Hutomo dan founder Jaringan Warkop Nusantara, Setya Yuda Indraswara.

"Kopi yang sekian lama diperlakukan sebagai sekedar komoditas perdagangan ternyata memiliki potensi pengembangan luar biasa bila didorong sebagai gaya hidup," ujar Wakil Kepala Bekraft, Ricky Josep Pesik, kepada detikcom, Sabtu (17/12/2016).

Menurutnya, kopi sebagai kuliner Indonesia menjadi salah satu pemberi kontribusi terbesar yang dibidikBekraf, selainfashion dan kerajinan. Oleh karena itu, saat ini tantanganBerkraf adalah bagaimana membawa kopi Indonesia mendapatkan nilai tambah yang lebih besar.
Pendampingan Pengusaha Kopi LokalFoto: Ardian Fanani
Pendampingan Pengusaha Kopi Lokal

"Kuliner salah satunya kopi kontribusinya sangat besar sekitar 40 persen. Caranya adalah bagaimana kopi itu diolah dan memiliki nilai tambah. Kita kemas sendiri dan kita jual. Selama ini kan kopi itu dijual sebagai komoditas atau biji dan dioleh oleh negara lain. Masuk lagi ke Indonesia dengan harga mahal, kenapa tidak kita oleh sendiri saja?" tambahnya.

Acara ini, kata Ricky, adalah kegiatan ketiga yang digelar Bekraf, untuk membangkitkan dunia kopi Indonesia. Sebelumnya, acara serupa digelar di Gayo, Aceh, Bajawa Flores dan Banyuwangi.

"Kita membahas bagaimana cara berusaha dalam industri kopi, dukungan dan bimbingan yang ada, serta terobosan pendanaan untuk memulai maupun meningkatkan usaha. Kita juga lakukan identifikasi masalah dan memberikan sosialisasi terhadap para petani, pelaku usaha hingga nanti tujuan kita yakni ekspor ke luar negeri," pungkasnya.

Sementara Asisten Pembangunan Dan Kesra Kabupaten Banyuwangi, Agus Siswanto menyambut baik pendampingan Bekraf kepada pengusaha kopi lokal Banyuwangi. Menurutnya, Banyuwangi sendiri memproduksi kopi 9.000 ton/tahun. Kopi yang diproduksi terdiri dari 90 persen jenis robusta dan 10 persen jenis arabica.

Data mencatat produksi kopi di Banyuwangi mencapai 8.047 ton pada 2015, meningkat dari tahun 2014 yang 7.992 ton. Angka produktivitasnya mencapai 19,49 kwintal per hektar.

"Banyuwangi memiliki sejumlah even tahunan tentang kopi. Mulai dari festival ngopi sepuluh ewu, festival petik Kopi Gombengsari dan Festival Kopi Lerek yang digarap oleh komunitas pecinta kopi. Ini semua ikhtiar kami dalam memajukan kuliner Banyuwangi," urainya.

Dalam event tersebut digelar pula Kompetisi Kreativitas Seduh Manual. Puluhan peracik kopi Banyuwangi ditantang membuat kopi dalam keterbatasan waktu dan kondisi yang tidak ideal, menyajikan kopi sesuai standar yang ditentukan juri dalam waktu 5 menit dengan metode dan alat bebas kecuali metode tubruk dan aeropress.

Waktu 5 menit adalah maksimum penyeduhan, total waktu yang diberikan dari saat persiapan sampai penyajian adalah 10 menit.
Tak hanya itu, dalam kegiatan ini juga digelar nonton bareng film tentang dokumentasi sejarah dan kehebatan kopi Indonesia.

Aroma of Heaven adalah film pertama dari serial tentang industri dan budaya kopi. Film ini merekam jejak perjalanan Kopi Indonesia lebih dari 300 tahun, dengan lintasan budaya, sejarah dan tradisi kearifan lokal. Film ini menyajikan pertanyaan dasar, seberapa dekat kita dengan kopi yang kita konsumsi setiap hari.
(fat/fat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed