Dari total 50 haktare wilayah yang terdampak bencana pergerakan tanah di desa tersebut, 20 hektare di antaranya area persawahan yang biasanya ditanami padi dan palawija.
"Luasan sawah tersebut terbagi menjadi dua. 10 Hektare milik warga dan 10 hektare sisanya tanah kas desa yang dikelola oleh para perangkat desa," Kepala Desa Terbis, SUpardi, Sabtu (17/12/2016).
Menurutnya, kondisi sawah yang ada di lokasi bencana alam mengalami kerusakan parah, beberapa titik telah ambrol dan retak-retak. Tanaman padi yang rata-rata baru ditanam dua minggu terakhir hampir dipastikan mengalami gagal panen. Tak hanya itu saja, seluruh perangkat desa juga bakal mengalami nasib serupa, padahal kawasan persawahan tersebut menjadi sumber utama penghasilan warga maupun perangkat desa.
Foto: Adhar MuttaqinPergeseran tanah hancurkan sawah |
"Habis semuanya, kami tidak bisa berbuat apa-apa terkait kondisi sawah ini, apalagi cuaca terus-menerus hujan, kami khwawatir akan menyebabkan kerusakan yang lebih parah," ujarnya.
Selain terancam gagal panen, 20 haktare area persawahan di Desa Terbis juga terancam hilang, mengingat hingga saat ini pergerakan tanah masih terus terjadi. Sawah yang berada di bagian atas kini telah ambles hingga kedalaman lebih dari satu meter.
Supardi menambahkan, selama ini sawah yang ada di lokasi bencana menjadi salah satu sumber utama penghasilan warga. Dalam satu tahun area sawah di kampungnya hanya bisa panen sebanyak dua kali dengan hasil rata-rata per hektare hanya satu Ton padi.
"Kalau di sini berbeda dibandingkan sawah yang ada di dataran rendah, karena untuk pengairannya hanya bisa bergantung pada curah hujan. Makanya hasilnya pun tidak banyak," jelasnya.
Kondisi kerusakan serupa juga terjadi pada lahan pekarangan warga yang ada di sekitar lokasi bencana. Sejumlah pepohonan berukuran besar banyak yang tumbang. Mulai dari pohon kelapa, sengon, cengkeh maupun pepohonan lainnya.
"Padahal cengkeh ini menjadi salah satu tanaman yang diandalkan warga, karena harga komoditas ini cukup tinggi," imbuhnya.
Fenomena alam pergeseran tanah, terus menerus terjadi di Kabupaten Trenggalek. Selama dua bulan terakhir tercatat tujuh kecamatan yang mengalami pergerakan tanah. Yakni, Kecamatan Trenggalek, Bendungan, Suruh, Pule, Tugu, Gandusari dan Kecamatan Panggul. Dari tujuh kecamatan, kondisi terparah terjadi di Desa Depok, Kecamatan Bendungan dan Desa Terbis, Kecamatan Panggul. (fat/fat)












































Foto: Adhar Muttaqin