Pelajar ke Sekolah dengan Rakit, Bupati Trenggalek Diminta Segera Perbaiki Jembatan

Pelajar ke Sekolah dengan Rakit, Bupati Trenggalek Diminta Segera Perbaiki Jembatan

Adhar Muttaqin - detikNews
Sabtu, 10 Des 2016 12:45 WIB
Pelajar ke Sekolah dengan Rakit, Bupati Trenggalek Diminta Segera Perbaiki Jembatan
Foto: Adhar Muttaqin
Trenggalek - Pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda Dusun Bandung, Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek terpaksa menggunakan rakit dari batang pisang atau gedebok untuk menyeberang sungai menuju ke sekolah.

Mereka menyeberang secara bergiliran dengan dibantu empat orang warga. Perjalanan para siswa tersebut berlangsung dramatis, karena perahu gedebok yang dirakit warga sempat miring, sehingga beberapa siswa nyaris jatuh ke sungai.

"Ini terpaksa kami lakukan, karena kondisi jembatan utama yang menghubungkan Desa Sukorejo dengan Dusun Pucung, Desa Gandusari terputus total sejak pertengahan Agustus yang lalu," kata salah seorang warga, Sukarno, Sabtu (10/12/2016).

Menurutnya, penyeberangan melalui sungai itu merupakan akses terdekat warga maupun pelajar untuk keluar dusun, karena jalur alternatif yang tersedia cukup jauh dengan jarak tempuh sekitar lima Kilometer.

"Jadi kalau banjir ya tidak bisa lewat, harus cari jalur lain," ujarnya kepada detikcom.

Sukarno menambahkan, penyeberangan darurat di sungai Tawing tersebut tidak bisa dilakukan pada saat debit air sungai sedang kecil, sedangkan pada saat banjir, warga tidak berani melakukan penyeberangan.

Pada saat terjadi banjir, debit air sugai lebih tinggi dan cukup berbahaya, sehingga rawan untuk dilakukan penyeberangan. pada saat kondisi tersebut para orang tua bisanya mengantarkan anaknya melalui jalur alternatif.

"Tapi kalau tidak ada yang mengantar ya tidak sekolah. Belum lagi kalau jembatan alternatif yang patah itu kena banjir," imbuhnya.

Warga mengaku telah tiga kali membuat jembatan darurat dari batang bambu di dekat lokasi jembatan lama, namun selalu hilang tersampu banjir dari aliran Sungai Tawing. Kini warga hanya bisa pasrah, karena tidak lagi memiliki anggaran untuk membuat jembatan daruat.

Sementara itu sejumlah siswa mengaku takut untuk meyeberangi sungai meski demikian mereka tetap nekat melakukan penyeberangan agar bisa masih sekolah.

"Takutnya itu kalau kecebur sungai, karena perahunya kan seperti ini," ujar salah seorang siswa, Mohammad Fitzal Ja'far.

warga berharap pemerintah daerah segera memperbaiki jembatan yang putus, karena hilangnya jembatan tersebut sangat mengganggu aktifitas perekonomian dan lalu lintas warga.

"Tidak hanya anak sekolah, warga yang mau ke pasar maupun kerja juga repot," kata warga lain, Sugiono. (ugik/ugik)
Berita Terkait