"Tempat tinggal" Ngati yang pengap dan tanpa aliran listrik itu berada di belakang rumah warga.
Dalam kandang sapi yang beralas tanah, atap seng penuh lubang itu, hanya ada satu tempat tidur berukuran 1 x 1,5 meter. Tempat tidur tanpa kasur itulah yang biasa digunakan untuk tidur bersama anaknya.
Ngati menceritakan, dia bersama suaminya Bambang (38) serta anaknya sudah sekitar 4 tahun tinggal di kandang sapi. Kandang sapi yang ditempat itu, bukan miliknya sendiri, tetapi menumpang lahan milik saudaranya yang memang juga tak mampu membantu banyak.
"Mau tidak mau, kami harus tinggal di kandang sapi ini, karena sebelumnya kami numpang tinggal ke tetangga, dan pindah-pindah. Kami merasa malu jika terus-terusan numpang, jadi kami memilih tinggal di kandang ini," tutur Ngati, saat ditemui tempat tinggalnya, Kamis (8/12/2016).
Ngati mengaku, kondisi keluarganya yang terhimpit ekonomi harus kuat menjalani semuanya. Termasuk anaknya, Anggara yang kini sudah berusia 12 tahun, harus putus sekolah saat duduk di bangku kelas I.
Sejauh ini, dia hanya bisa mencari uang sebagai buruh tani. Setiap harinya, dia mendapat upah sekitar Rp 25 ribu.
"Anak saya tidak sekolah, karena kami sudah tidak mampu lagi untuk membiayainya. Mulai sekarang anak saya diajari kerja bantu saya," ujarnya.
Ngati juga menceritakan, jika Bambang, suaminya saat ini tengah ditahan oleh Polsek Sumber. Bambang dituduh mencuri satu pohon pinus milik perhutani. Padahal nemurut Ngati, kayu tersebut tumbang terkena angin.
"Suami saya ditahan polisi karena dituduh mencuri kayu pinus, padahal kayu itu, rencana buat penyanggah kandang ini. Saya sekarang hanya tinggal bersama anak saya ini. Bingung saya mas, ditinggal suami," keluhya lagi.
Sementara itu, kepala Desa Pandan Sari, Tiyarso mengatakan, dirinya baru mengetahui ada warganya yang sudah lama tinggal di kandang sapi. Sebab, dia berpikir Bambang dan Ngati masih muda dan bekerja sebagai buruh tani.
"Kami dan warga punya rencana membuatkan rumah dari hasil swadaya masyarakat. Kami masih menunggu kesepakatan seluruh warga di sini," kata Tiyarso. (bdh/bdh)










































